Di setiap selmu ada mitokondria – mesin mungil pembuat energi. Ia punya DNA sendiri: 16.569 pasang basa, diwariskan langsung dari ibu. Tenaga yang menyalakan tiap napasmu adalah warisan beliau
Anak laki-laki mewarisinya juga tapi hanya an perempuan yang meneruskan. Artinya: selama ~200.000 tahun, satu rantai i bu » anak perempuan, tanpa pernah terputus Kamu ujung yang hidup dari rantai itu.
Mungkin kamu dengar: “Tawa kita mirip ibu karena mtDNA.” Sebenarnya mtDNA hanya urus energi. Tawamu, gestur-mu mirip karena DNA inti + cara kamu dibesarkan.
Jadi ibu mewariskan dua-duanya: api energi, dan kebiasaan kasih.
Buddha berkata: Ada dua orang yang nyaris mustahil dibalas ibu, dan ayah. Menggendong mereka seratus tahun pun tak cukup.
Karena dari merekalah kita ada, bernapas, diberi
kehidupan
Rantai ibu ini menggemakan sesuatu yang lebih dalam.
Buddha mengingatkan: Dalam perjalanan hidup yang panjang, sulit menemukan satu makhluk pun yang belum pernah menjadi ibu kita. Di belakang kita semua tak terhitung ibu.
Itu sebabnya Buddha memilih ibu sebagai gambaran cinta tertinggi:”Bagai ibu menjaga anak tunggalnya dengan nyawa, pancarkan cinta tanpa batas pada semua makhluk.” Garis ibu membuka pintu ke kasih untuk semua.
Apa pun hubunganmu dengan ibumu baik itu dekat, rumit, kehilangan, atau tak sempat mengenalnya, kamu tetap berdiri di atas rantai bertahan hidup yang sama. Dan kasih itu tetap bisa kamu teruskan ke depan, ke siapa pun
Hari ini, satu laku kecil: Hubungi ibu atau sosok yang mengibumu, ucapkan terima kasih. Kalau beliau sudah tiada: kirim satu pikiran baik,
“terima kasih sudah bertahan.”
Lalu teruskan: Satu kebaikan pada orang lain hari ini
Kamu adalah gema hidup dari ribuan perempuan yang menolak menyerah, melewati zaman es, wabah, kelaparan, agar kamu ada hari ini.
Hormati itu dengan satu hal:
Teruskan kebaikannya.
Leave a Reply