Patung Asura dalam ajaran Buddha di Jepang menggambarkan makhluk setengah dewa yang panjang umur dan kuat, namun dikuasai oleh amarah serta ego, iri pada para dewa. Tokoh seperti Mara, penggoda Buddha, kadang digolongkan sebagai Asura karena sifatnya yang penuh kecemburuan. Menariknya, konsep Asura ini sering dikaitkan dengan bulan Suro dalam budaya Jawa, meskipun asal-usulnya berbeda.
Secara lokal, kepercayaan Jawa tentang bulan Suro lebih mengenal istilah makhluk halus seperti jin atau setan, bukan secara spesifik Asura. Namun, mitologi Jawa-Hindu pra-Islam memang akrab dengan figur raksasa (buto) sebagai antagonis, yang dapat dianggap sebagai padanan lokal Asura. Meski demikian, larangan menggelar hajatan di bulan Suro lebih bersumber dari kearifan lokal Jawa tentang “bulan keramat” dan keberadaan makhluk halus, bukan dari ajaran Buddha.
Dari sudut pandang ajaran Buddha, bulan Suro secara historis tidak tercantum dalam kalender ritualnya. Tidak ada perayaan utama ajaran Buddha yang jatuh di bulan ini. Kalender ajaran Buddha memiliki penanggalannya sendiri, seperti Waisak di bulan Mei atau Asadha di Juli. Buddha Gautama juga mendorong umat untuk tidak terikat pada takhayul waktu; “hari baik atau buruk tergantung perbuatan kita”, artinya setiap waktu bisa menjadi baik jika diisi kebajikan.
Meskipun tidak ada kaitan doktrinal langsung, nilai-nilai filosofis bulan Suro memiliki irisan dengan ajaran Buddha. Tradisi Jawa di bulan Suro menekankan introspeksi dan pengendalian diri, sejalan dengan latihan batin (bhavana) dalam ajaran Buddha. Larangan hura-hura dan ritual seperti ruwatan mencerminkan usaha mengekang nafsu serta memohon keselamatan, mirip tujuan pelimpahan jasa meski caranya berbeda.
Berbagai aliran ajaran Buddha di Indonesia menyikapi bulan Suro secara fleksibel. Tradisi Theravada dan Mahäyäna tidak memiliki ajaran khusus tentang suro, namun tetap menghargai nilai spiritualnya. Umat Theravada di Jawa kerap mengadakan doa atau pattidana, sementara Mahäyana menggunakan konsep Asura sebagai pengingat moral.
Ajaran Buddha yang berbaur dengan budaya lokal seperti Jawa-Bali juga mendukung partisipasi dalam ritual seperti Ruwat Bumi, selama nilai-nilainya sejalan dengan prinsip karma dan kebajikan.
Leave a Reply