3 Fakta Unik Ajaran Buddha

Selasa, 12 Mei 2026

Banyak Yang Ribut Soal Film "Pesta Babi".

“Pesta Babi” bukan tentang babi.

Itu nama tradisi masyarakat Muyu – Awon Atatbon yang merupakan upacara adat besar untuk menghormati leluhur, menyambut tamu, merayakan kelahiran, menjaga ikatan komunitas. Untuk masyarakat adat Papua, babi bukan sekadar daging. Babi adalah cara mereka mengingat siapa mereka dan kepada siapa mereka berhutang. Lalu apa pesan utama film itu? Sederhana sekali. Untuk masyarakat yang hidup di sana, hutan bukan komoditas. Hutan bukan “lahan tidak terpakai.” Hutan bukan angka di laporan ekonomi. Hutan adalah ibu, hutan adalah leluhur, hutan adalah masa depan yang sedang menumbuhkan generasi yang belum lahir dan ketika hutan diperlakukan sebagai komoditas saja yang hilang bukan hanya pohon tapi yang hilang adalah seluruh peradaban yang berdiri di atasnya. 

 

Yang menarik Buddha tidak pernah anti-pembangunan. Tapi beliau sangat jelas soal hutan.

Dalam Vanaropa Sutta, beliau berkata: “Mereka yang menanam taman, menanam hutan, membangun jembatan, menggali sumur untuk umum jasa kebaikan mereka tumbuh siang dan malam, hari demi hari.” Bukan menebang hutan yang Buddha puji tapi menanam hutan.

 

Di Aggañña Sutta, Buddha menceritakan sebuah kisah panjang.

Dulu, manusia hidup sederhana, Tanah subur, Hutan melimpah, Padi tumbuh tanpa sekam, Cukup untuk semua. Lalu satu orang mulai mengambil lebih banyak. Lalu yang lain ikut, Lalu keserakahan menyebar seperti api dan tanah pun berhenti murah hati. Buddha tidak berkata ini terjadi karena hukuman dewa. Beliau berkata ini terjadi karena sebab dan akibat yang berjalan tanpa peduli siapa yang menanam sebabnya.

 

Apa yang masyarakat adat di film itu sudah tahu yang kebanyakan kita sudah lupa?

Bahwa kita bukan pemilik hutan. Kita hanya tamu sebentar di dalamnya. Bahwa apa yang kita ambil hari ini adalah hutang kepada cucu cicit kita yang belum bisa membela diri. Bahwa tanah leluhur bukan “aset yang belum dimanfaatkan.” Itu adalah perjanjian antar generasi. Buddha menyebut pemahaman ini paññā kebijaksanaan dan beliau sangat menghormatinya, dari manapun datangnya.

 

Thích Nhất Hạnh – seorang Zen Master Vietnam pernah mengajarkan satu kata yang sangat indah: Interbeing

Bukan “kita saling terhubung.” Tapi lebih dalam dari itu: kamu, aku, hutan, sungai, sagu di Papua, beras di Jawa, udara yang kita hirup hari ini. Kita semua saling membentuk satu sama lain. Tidak ada “saya” tanpa “kamu.” Tidak ada “manusia” tanpa “hutan.” Yang menyakiti satu titik sebenarnya sedang menyakiti dirinya sendiri. 

 

Untuk umat Buddha yang membaca ini, mari jujur sebentar. Kita sering rajin ke vihara, baca paritta, meditasi pagi. Tapi seberapa sering kita memikirkan

• Dari mana kayu altar kita berasal?

• Berapa banyak pohon yang ditebang untuk kertas kalender Waisak yang kita bagi?

• Apakah praktik Dhamma kita hanya soal duduk diam atau juga soal melihat dengan jujur bagaimana cara hidup kita memengaruhi yang lain?

Buddha pernah berkata: “Sammā-ājīva.” Penghidupan yang benar. Termasuk dari mana yang kita konsumsi.

 

Yang sederhana yang bisa dilakukan:

Beli lebih sedikit, pilih lebih hati-hati. Tanya dari mana asal makanan, kertas, sawit yang ada di dapurmu. Tonton film itu kalau bisa. Dengarkan suara masyarakat adat dari banyak sumber tidak hanya satu pihak. Pelajari sutta-sutta tentang alam. Vanaropa, Aggañña, Cakkavatti-Sīhanāda penuh dengan pengingat yang lembut. Kalau kamu punya lahan, tanam satu pohon. Kalau tidak, dukung yang menanam. Buddha berkata jasa kebaikan ini tumbuh siang dan malam. Itu janji yang sangat sulit ditemukan di tempat lain.

Banyak Yang Ribut Soal Film “Pesta Babi”.
Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *