Dalam Buddhisme, karma berawal dari tindakan yang disengaja.
• Apa yang terus kita pilih, ulang, dan normalisasi, akan menciptakan kondisi tertentu.
Aṅguttara Nikāya 6.63: “Niatanlah yang Kusebut karma.”
Bayangkan jutaan tindakan kecil terjadi bersamaan: konsumsi berlebihan, hutan dibuka, sampah dibuang, sungai dipenuhi limbah, energi digunakan tanpa kendali.
Satu tindakan mungkin kecil. Jutaan tindakan mengubah sistem.
Banjir tidak perlu dianggap “alam marah”.
Kebakaran hutan tidak perlu dianggap “semesta membalas”
Kita cukup melihat:
ada sebab, ada kondisi, ada akibat.
Dan sebagian kondisi itu bisa lahir dari pilihan manusia.
Karma bukan cuma urusan “aku”.
• Pilihan kita memengaruhi orang lain, hewan, hutan, air, udara, dan generasi berikutnya.
Kita hidup dalam jaringan sebab-akibat yang saling terhubung.
Dalam Vanaropa Sutta, orang yang menanam taman dan hutan, membangun jembatan, serta menyediakan air, disebut terus menumbuhkan kebajikan.
Saṃyutta Nikāya 1.47
Jadi menjaga alam bukan sekadar “isu lingkungan”. ini juga latihan Dharma.
Mengurangi keserakahan.
Menggunakan secukupnya.
Tidak merusak kehidupan.
Memikirkan akibat sebelum bertindak.
Karma dibentuk dari pilihan-pilihan seperti ini.
Bumi yang kita warisi besok dibentuk oleh keputusan kita hari ini.
Kalau tindakan kolektif bisa menciptakan kerusakan, tindakan kolektif juga bisa menciptakan pemulihan.
Jaga alam.
Bukan karena kita takut “dihukum”. Tapi karena kita paham sebab dan akibat.
Leave a Reply