AN 4.77
Buddha: Akibat karma itu tak terpikirkan. Menghitung hitungnya bisa bikin gila.
Ada empat hal yang Buddha sebut tak terpikirkan (acinteyya).
Salah satunya rincian akibat karma. Siapa yang berspekulasi tentangnya, kata beliau, akan menjadi gila dan frustrasi.
Jadi karma bukan neraca debit-kredit yang bisa kita hitung sampai “impas”.
AN 6.63:
Kehendak itulah karma. Yang dilihat bukan cuma hasilnya, tapi niat dan keputusannya.
“Kehendaklah, para Bhikkhu, yang Kusebut karma. Setelah berkehendak, orang berbuat lewat tubuh, ucapan, dan pikiran.”
Menurut AN 3.34, perbuatan yang lahir dari keserakahan akan matang dan dialami buahnya, di kehidupan ini atau sesudahnya.
Jadi kalau seseorang tahu keputusannya membuat banyak makhluk menderita, lalu tetap menjalankannya demi
untung, itu perbuatan tidak bajik yang berakar pada keserakahan.
Dana tetap kebajikan, tapi tidak otomatis menghapus perbuatan buruk.
Bayangkan menanam mangga dan cabai di kebun yang sama.
Yang tumbuh dua-duanya, bukan “rata-ratanya”.
Karma baik dan buruk berbuah masing masing, sesuai sebab dan kondisinya. Karena itu tidak ada istilah “impas” setelah berdana.
AN 4.61
Di sutta, kebajikan yang dipuji Buddha memakai harta yang diperoleh secara benar.
Harta hasil usaha yang giat, dikumpulkan dengan kekuatan lengan, dengan keringat di dahi, harta yang benar dan diperoleh secara benar.
Dengan harta itulah ia melakukan empat perbuatan layak, termasuk berdana kepada para petapa.
Itu sebabnya Jalan Mulia Berunsur Delapan memuat Penghidupan Benar. Cara mendapat harta sama pentingnya dengan cara membagikannya.
Sutra Brahmajāla
Ada sila Bodhisattva yang secara khusus melarang membakar hutan.
Sila ringan ke-14 Sutra Brahmajāla melarang murid Buddha, dengan niat jahat, menyalakan api besar untuk membakar hutan pegunungan dan padang belantara, juga membakar di bulan keempat sampai kesembilan.
Rumah, kota, wihara, ladang, pepohonan, dan semua milik orang lain juga tidak boleh sengaja dibakar.
Jauh sebelum ada istilah karhutla, membakar hutan sudah tercatat sebagai pelanggaran sila bodhisattva.
MN 61
Kalau sadar salah, langkahnya bukan sekadar menambah donasi tapi akui, hentikan, pulihkan.
Buddha mengajari Rāhula bercermin sesudah berbuat:
“Apakah perbuatan ini menyakiti diri sendiri, orang lain, atau keduanya?” Kalau ya, akui dan buka kepada guru atau sahabat yang bijak, lalu menahan diri di masa depan (MN 61).
Untuk kerusakan alam, artinya: Hentikan perbuatannya, pulihkan kerusakannya, bertanggung jawab kepada yang terdampak, dan jangan mengulanginya.
Ukuran kebajikan bukan besar nama di daftar donatur, tapi seberapa sungguh kita mengurangi penderitaan makhluk hidup.
Menurutmu, mana yang lebih sulit: berdana besar, atau mencari harta tanpa merugikan siapa pun?
Leave a Reply