Kini namanya
Somdet Phra Maha Phatcharayanamuni.
Tapi dunia mengenalnya sebagai Ajahn Jayasaro.
Dan ia lahir dengan nama Shaun Michael Chiverton, di Isle of Wight, Inggris, tahun 1958.
Sejak muda, ia gelisah.
Mencari kebenaran, Mencari makna hidup.
Di usia 17 tahun, ia pergi ke India, mengembara, membaca, mencari sampai ia mendengar tentang seorang biksu hutan.
Dan hatinya berbisik:
“Inilah… yang selama ini kucari.”
Tahun 1978, ia pergi ke Thailand.
Dan menjadi murid Ajahn Chah, salah satu guru meditasi terbesar dalam Tradisi Hutan Thailand.
Pada tahun 1980, ia ditahbiskan penuh menjadi biksu dengan Ajahn Chah sendiri sebagai penahbisnya.
Dan ia memilih jalan yang paling keras.
Tradisi Hutan cabang Theravada yang paling ketat
memegang disiplin asli Sang Buddha.
Yang paling menekankan meditasi & keheningan.
Bukan jalan yang nyaman. Bukan jalan yang ramai.
Ia menjadi kepala vihara hutan internasional. Ia menulis termasuk biografi gurunya, “Stillness Flowing”, yang butuh lebih dari 20 tahun untuk selesai.
Ia mengajar Dharma dalam bahasa Thai dan Inggris sebuah jembatan antara Timur & Barat. Bahkan berbicara di depan Kongres Amerika Serikat.
Dan pekan ini, Raja Thailand dengan berkenan mengangkatnya ke rangkaian Somdet Phra Ratchakhana gelar tertinggi yang hanya diberikan kepada segelintir biksu yang berjasa luar biasa bagi agama.
Dan ia menjadi biksu kelahiran luar negeri pertama dalam sejarah Thailand yang menerimanya.
Ajahn Jayasaro tak pernah mencari gelar.
Seorang biksu hutan mencari pembebasan bukan pengakuan, mencari keheningan bukan kehormatan.
Gelar itu datang kepadanya setelah puluhan tahun praktik yang sunyi. Dan itulah paradoks yang indah, keluhuran sejati tak pernah diburu. Ia mengikuti mereka yang tulus.
Dan inilah pesan terdalamnya.
Tak peduli di mana kamu lahir, Tak peduli warna kulitmu, bahasamu, budayamu.
Jalan menuju kebijaksanaan & kedamaian terbuka untuk semua. Seorang anak dari pulau kecil di Inggris, telah membuktikannya.
Phatcharayanamuni) (Somdet Phra Maha
Kisahmu mengingatkan kami, yang menentukan bukanlah dari mana kita berasal melainkan seberapa tulus kita berjalan.
Semoga kisah ini menyalakan keberanian bagi setiap pencari di mana pun mereka berada.
Anumodana, Sadhu.
Leave a Reply