Seharusnya: Dana itu tidak dilihat nominalnya.
Realitanya: Papan donatur diurutkan dari yang paling besar. (Dan huruf paling atas paling gede.)
Seharusnya: semua umat disambut sama.
Realitanya: ada yang disambut sampai parkiran. (Ini kritik untuk panitia, yaitu kami sendiri.)
Seharusnya: berdana secara anonim.
Realitanya: tertulis “Hamba Buddha”, tapi satu vihara tahu siapa. (Termasuk yang di grup WA.)
Seharusnya: berdana tanpa pamrih.
Realitanya: berdana tanpa pamrih, lalu diam-diam mengecek ejaan namanya sudah benar apa belum. (Ini sih semua orang, bukan cuma yang berpunya.)
Oke, sekarang bagian yang mengejutkan. Karena soal kekayaan, kanon Buddhis jauh lebih terbuka daripada yang kita kira.
Dua sutta terpenting tentang kekayaan, keduanya disampaikan Buddha langsung kepada Anāthapiṇḍika, donatur awam terkaya pada zamannya.
Perhatikan caranya: Buddha tidak menyindir orang kaya, Beliau juga tidak menjilat mereka, Beliau mengajari mereka.
1. Menyenangkan diri sendiri, orang tua, anak-istri, dan pekerjanya.
2. Menyenangkan sahabat dan rekan.
3. Melindungi diri dari malapetaka.
4. Melakukan lima persembahan kepada sanak, tamu, leluhur yang telah tiada, raja (yakni pajak), dan para dewata.
5. Dana kepada para pertapa dan brahmana.
Baca ulang nomor empat.
Buddha menyebut bayar pajak sebagai salah satu penggunaan kekayaan yang benar dan di daftar yang sama, mendoakan leluhur yang telah tiada.
Dua-duanya, satu napas.
Memiliki harta yang diperoleh secara benar, memakainya dan berbuat jasa dengannya, bebas utang, serta tanpa cela.
Lalu, syair penutupnya berbunyi:
“Dibandingkan kebahagiaan tanpa cela, ketiganya tidak sampai seperenam belas bagian.”
Punya harta, bisa memakainya, bebas utang, digabung pun tidak sampai 1/16.
Sutta itu ditutup dengan kalimat ini:
“Aku telah mencapai apa pun tujuan yang diinginkan orang bijaksana dari kekayaannya, apa yang telah kulakukan tidak membuatku menyesal.”
Jadi, ukurannya bukan besarnya, melainkan tidak adanya penyesalan.
Sādhu.
Leave a Reply