Dalai Lama: Cahaya Perdamaian Dari Tibet Oleh Bhikkhu Jayamedho

Sabtu, 05 Juli 2025

Dalai Lama: Cahaya Perdamaian Dari Tibet Oleh Bhikkhu Jayamedho

Perjalanan spiritual saya banyak diilhami oleh H.H. Dalai Lama XIV. Sejak awal, saya mendambakan pertemuan dengannya, meski di era 1960-an, koneksi dengan ajaran Buddha Tibet di Indonesia masih terbatas. Siapa sangka, pencarian otodidak bersama sahabat saya, Mochtar Rashid, mendalami ajaran Tibet seperti “The Song of Milarepa, justru membentuk jalan saya hingga kini.

 

Saya sangat mengagumi Dalai Lama atas dedikasinya menyantuni jutaan pengungsi Tibet yang melarikan diri dari penindasan Tiongkok. Kisah-kisah kesaksian para pengungsi menegaskan kebanggaan mereka akan identitas Tibet yang unik. Sungguh luar biasa bagaimana tokoh-tokoh Tibet, dari keterbatasan materi, mampu meluaskan pengaruh mereka ke seluruh dunia, berdialog dengan ilmuwan dan pemimpin global. Atas usahanya ini, beliau dianugerahi Nobel Perdamaian pada tahun 1989.

 

Saat ditanya tentang kesedihan meninggalkan Tibet, Dalai Lama melihatnya sebagai hikmah: ajaran Buddha Tibet dapat menyebar luas ke penjuru dunia, bahkan hingga ke negara seperti Islandia yang kini memiliki vihara Buddhis Tibet. Selama 50 tahun di pengasingan India, beliau tak henti menyuarakan perdamaian dan kebersamaan antarumat beragama. Kunjungan beliau ke Jakarta pada tahun 1982, difasilitasi oleh Aggi Tjetje, menjadi bukti nyata jangkauan pengaruhnya, meskipun sempat ada kendala birokrasi yang akhirnya dapat diatasi.

 

Pikiran menentukan ucapan, ucapan menjadi tindakan, tindakan membentuk kebiasaan, kebiasaan menciptakan karakter, dan karakter menentukan nasib yang membentuk hidup kita. Karena itu, awasilah setiap langkah dari pikiran hingga perilaku. Kebenaran adalah nilai tertinggi melampaui semua agama. ~ Dalai Lama.

 

Pada April 2011, Dalai Lama mengakhiri sistem politik lama di Tibet demi masa depan rakyatnya. la menegaskan bahwa era kepemimpinan absolut telah berakhir. Meski mundur dari politik, beliau tetap mengusung nilai cinta, welas asih, dan toleransi sebagai inti semua agama, demi harmoni di tengah konflik global.

 

Selamat berulang tahun ke-90. “Selama ruang masih ada, dan selama makhluk hidup masih ada, semoga aku pun tetap ada untuk menghapus penderitaan dunia ini.” Dali Lama sering mengutipnya dalam ajaran dan pidatonya, menjadikannya semacam “sumpah hidup” beliau.

 

Sumber: Menapak Pasti: Kisah Spiritual Anak Madura (2011)

Dalai Lama: Cahaya Perdamaian Dari Tibet Oleh Bhikkhu Jayamedho
Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *