Hari Bacang disebut juga Festival Perahu Naga (Duanwu), yang jatuh setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Lunar. Di Indonesia, kita mengenalnya sebagai Peh Cun, dari dialek Hokkien yang berarti “mendayung perahu”. Hingga hari ini, momen ini selalu ditandai dengan riuhnya lomba perahu naga, tradisi mendirikan telur di tengah hari, dan tentu saja… menyantap bacang bersama.
Kisah yang mendasari festival ini bersumber dari sosok legendaris: Qu Yuan. Beliau adalah seorang penyair agung dan menteri patriotik yang dikenal atas kesetiaan serta integritasnya yang tanpa kompromi. Ketika nasihat baiknya difitnah oleh kaum bangsawan korup, ia disingkirkan dari istana dan diasingkan jauh dari tanah airnya. Saat mendengar kabar bahwa ibu kota negerinya akhirnya runtuh diserang musuh, hati Qu Yuan hancur berkeping-keping karena tidak mampu lagi membela tanah kelahirannya
Namun, hal yang paling menyentuh dari kisah ini bukanlah akhir hayat sang penyair melainkan bagaimana respons tulus dari rakyatnya. Mereka yang teramat mencintai integritas Qu Yuan seketika berdayung serempak ke tengah sungai untuk mencarinya. Dari kepedulian inilah lahir perlombaan perahu naga. Demi melindungi jasad sang pahlawan, rakyat juga menebar bungkusan ketan ke dalam air agar kawanan ikan tidak mengganggu. Dari sinilah awal mula tradisi bacang tercipta. Di balik sebutir bacang hangat, ada jejak karuņā -sebuah welas asih murni yang bergerak dan berjuang bersama demi menjaga kehormatan orang baik
Coba perhatikan baik-baik sebungkus bacang di depanmu. Butiran ketan yang lengket itu, jika dibiarkan begitu saja tanpa dibungkus, pasti akan berserak tak keruan. Namun, ketika ia dibalut dengan daun bambu yang kuat lalu diikat erat, ia berubah menjadi utuh, punya bentuk, dan memiliki makna. Begitu pula dengan jalan hidup kita. Batin kita hanya bisa dirangkai dan dijaga agar tidak berserak oleh balutan sīla (moralitas) serta ikatan sati (kesadaran penuh).
Hari Bacang dahulu juga erat dikaitkan dengan ritual menolak “lima racun” sebuah tradisi kuno untuk membersihkan wabah penyakit dan hal buruk tepat di pertengahan tahun. Bagi kita hari ini, momen ini menjadi sebuah pengingat spiritual yang indah untuk membersihkan tiga racun batin kita sendiri:
Lobha – penyakit keserakahan yang tak pernah puas.
Dosa – kobaran kebencian dan amarah yang merusak.
Moha – kegelapan batin dan ketidaktahuan akan kebenaran.
Perjalanan tahun ini masih sangat panjang. Sebelum melangkah lebih jauh, mari luangkan waktu sejenak untuk berbenah ke dalam diri.
Sebungkus bacang hangat sering kali lahir dari dapur rumah, dirajut bersama resep turun-temurun dari nenek, ke ibu, hingga ke tangan kita hari ini. Hari Peh Cun bukan sekadar tentang menyantap makanan yang lezat. Ia adalah momen sakral untuk berterima kasih pada akar, kepada leluhur, budaya, dan tangan-tangan yang menjaga tradisi tetap hidup. Inilah inti dari kathaññuta-kualitas batin dari sebuah hati yang tahu cara bersyukur.
Dan mungkin, inilah inti dari semuanya. Tradisi ini dirajut bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk menyatukan keluarga, tetangga, lintas generasi, bahkan lintas keyakinan. Sebuah perayaan kebersamaan murni yang selalu menghangatkan batin kita semua.
Saat kamu menyantap sebutir bacang hangat, lambatkanlah seluruh gerakanmu sejenak. Rasakan hangat ketannya, hirup wangi daun bambunya, bayangkan tangan-tangan tulus yang membuatnya, dan resapi kisah ribuan tahun di baliknya. Menikmati satu bungkus bacang dengan penuh kesadaran (sati) dan rasa syukur (kathaññuta)-itu pun sebenarnya adalah sebuah bentuk latihan batin.
Leave a Reply