Dua biksu berjalan menempuh hujan deras. Di sebuah penyeberangan, air meluap dan tanah penuh lumpur.
Di sana, seorang wanita muda berkimono sutra berdiri kebingungan, ia tak bisa menyeberang
Biksu yang lebih tua, Tanzan berkata: “Mari, kubantu.” Ia menggendong wanita itu, membawanya menyeberang dengan hati-hati, lalu menurunkannya di seberang. Keduanya berjalan kembali.
Tapi biksu yang muda, Ekido terdiam. Satu jam… dua jam… ia tak bicara. Di dalam dadanya, sesuatu mendidih. “Bukankah kami biksu tak boleh menyentuh perempuan…?”
Akhirnya Meledak
Malam tiba. Mereka sampai di penginapan. Ekido tak tahan lagi: “Kita ini biksu! Kita tak boleh dekat perempuan, apalagi yang muda & cantik. Кепара kamu menggendongnya tadi?”
Tanzan menatapnya, lalu berkata pelan: “Aku sudah menurunkannya di tepi sungai tadi. Kenapa kamu masih menggendongnya sampai sekarang?”
Tanzan menggendong wanita itu satu menit, dengan tangannya. Ekido menggendongnya berjam-jam, dengan pikirannya. Beban yang sesungguhnya bukanlah wanita itu melainkan penghakiman yang tak bisa ia letakkan.
Pertengkaran minggu lalu. Kata-kata yang menyakitkan. Kesalahan yang sudah berlalu. Dendam yang kita peluk diam-diam. Semuanya sudah selesai tapi masih kita gendong, masih tinggal di kepala tanpa bayar sewa.
Jauh sebelum kisah ini, Buddha sudah mengajarkannya. Dalam Bhāra Sutta, beliau bicara tentang “meletakkan beban” dan beban itu, kata beliau, adalah kemelekatan kita sendiri. Tapi lembut, ya, melepaskan itu latihan, bukan saklar. Luka yang dalam layak waktu & ditemani. Ini bukan “lupakan begitu saja.”
Jadi, pelan-pelan, coba tanya dirimu: “Apa yang masih kugendong hari ini, padahal sudah lama boleh kuletakkan?” Sebut bebannya. Tarik satu napas. Lalu… letakkan..
Leave a Reply