“Mana yang lebih jujur, tetap dalam agama tanpa keyakinan, atau pindah setelah pencarian batin yang serius?” Dan ada satu kisah dalam kanon yang justru menolak menjawab “mana.”
Namanya Upali, perumah tangga terkemuka di Nalanda, dan penyokong utama sebuah aliran lain. Suatu hari, ia datang kepada Buddha. Bukan untuk mencari, melainkan untuk membantah beliau.
Gurunya bahkan sempat berkata: “Mustahil Upali menjadi murid Gotama, yang mungkin justru Gotama menjadi murid Upali.” Tapi Upali kalah, dan ia menyatakan ingin berlindung.
“Selidikilah dengan saksama, perumah tangga. Baik bagi orang terkenal sepertimu untuk menyelidiki dengan saksama.” Baca ulang: Buddha memperlambat orang yang ingin
pindah.
Reaksi Upali inilah permatanya: “Guru-guru aliran lain, begitu memperoleh saya sebagai murid, akan mengarak panji ke seluruh Nalanda. ‘Upali telah menjadi murid kami!’ Tetapi sebaliknya, Yang Terberkahi justru berkata: ‘Selidikilah dengan saksama.’”
“Perumah tangga, keluargamu telah lama menyokong para pertapa itu. Hendaknya engkau mempertimbangkan agar dana tetap diberikan kepada mereka bila mereka datang.”
“Saya semakin puas dan senang. Yang saya dengar sebelumnya adalah bahwa Anda menetapkan pemberian hanya boleh kepada Anda dan murid-murid Anda. Namun kini Yang Terberkahi justru mendorong saya menyertakan mereka.”
Dalam antusiasme barunya, Upali justru menutup gerbangnya bagi para pertapa itu, padahal Buddha menyuruhnya tetap berdana
kepada mereka. Artinya kelebihan itu datang dari muridnya,
bukan dari gurunya.
Buddha tidak menjawab “mana” Beliau menjawab “bagaimana caranya.” Dan jawabannya dua: Pelan-pelan, jangan memutuskan di puncak emosi. Jangan tutup pintu ke belakang, hormati dari
mana kamu datang.
Leave a Reply