3 Fakta Unik Ajaran Buddha

Jumat, 04 September 2026

Habis gelap terbitlah sawit?

Jangan salah paham.

Sawit bukan otomatis penjahat.
Dan tidak semua kebakaran hutan disebabkan perkebunan sawit.
Tapi Indonesia memang masih menghadapi persoalan:
• Pembukaan lahan dengan api
• Kebakaran di wilayah konsesi
• Deforestasi
• Lemahnya pengawasan.
Pemerintah sendiri pada Agustus 2026 kembali melarang keras pembukaan lahan dengan membakar.
Jadi pertanyaannya bukan:
“Apakah sawit salah?”
Tapi, Bagaimana sawit diproduksi?

 

Tahun ini, masalahnya besar.
• Pada Juli 2026 saja, hampir 95.000 hektare terbakar.
• Lebih dari 9.000 hotspot terdeteksi sepanjang Agustus.
Pemerintah juga memeriksa puluhan perusahaan setelah api ditemukan di wilayah konsesi mereka.
Api bukan cuma masalah cuaca. Ada tanggung jawab manusia di dalamnya.

 

El Niño membuat lahan kering.
Tapi El Niño tidak memegang korek api.
Menteri Kehutanan sendiri menyebut banyak kebakaran
Dipengaruhi aktivitas manusia, sementara cuaca kering membuatnya jauh lebih mudah menyebar.
Maka ketika kebakaran terus berulang, jangan berhenti pada:
“Ya namanya juga musim kemarau.”
Kita perlu melihat sebab di balik sebab.

 

Ini yang berbahaya:
Ketika alam hanya dinilai dari berapa uang yang bisa dihasilkan.
• Hutan dilihat sebagai lahan
• Satwa dianggap hambatan
• Gambut dianggap tanah kosong.
Lalu ukuran keberhasilan hanya menjadi:
• Berapa hektare?
• Berapa keuntungan?
• Berapa ton?
Padahal ada biaya yang tidak muncul di laporan keuangan:
• Udara.
• Kesehatan.
• Air.
• Kehidupan satwa.
• Masa depan anak-anak.

 

Dalam Buddhisme, Masalahnya Bukan Kita Menggunakan Alam.

Manusia memang hidup dari alam.
Masalahnya adalah keserakahan yang tidak tahu batas.
Ketika keuntungan menjadi satu-satunya ukuran, kita mudah lupa:
• Keuntungan bagi satu pihak bisa berarti penderitaan bagi makhluk lain.
Ini bukan hanya masalah lingkungan.
Ini masalah batin.

 

Buddha memberi gambaran yang indah.
Seperti lebah mengambil sari bunga tanpa merusak warna dan harumnya,
demikian kita seharusnya hidup dari dunia ini.
Ambil secukupnya.
Beri ruang alam untuk pulih.
Jangan mengambil sampai sumber kehidupan ikut hancur.
Itu baru pembangunan dengan martabat.

 

Bahkan
Dalam SN 1.47

Buddha memuji mereka yang menanam hutan, menanam pepohonan, menyediakan air, dan membuat sesuatu yang berguna bagi banyak makhluk.
Kebajikan mereka disebut terus bertambah.
Pesannya sederhana:
Merawat alam juga bentuk berbuat baik.
Bukan urusan aktivis lingkungan saja.

 

Jadi…
Kita tidak anti-sawit.

Sawit memberi mata pencaharian, produk, ekspor, dan nilai ekonomi. Yang harus ditolak adalah:
• Sawit dari perusakan.
• Keuntungan dari api.
• Pertumbuhan dari penderitaan.
Industri yang baik seharusnya bisa berkata:
“Kami tumbuh tanpa harus membakar masa depan.”

 

Habis gelap jangan selalu terbit sawit.
Biarkan setelah gelap
Biarkan setelah gelap,
• Terbit hutan kembali.
• Terbit udara bersih.
• Terbit habitat.
• Terbit tanggung jawab.
• Terbit kebijaksanaan.
Karena pembangunan yang benar bukan meninggalkan angka ekonomi yang besar,

 

Kalau sebuah lahan terbakar, menurut Anda apa yang seharusnya terjadi?
A. Dipulihkan
B. Diaudit penyebabnya
C. Dilarang langsung dialihfungsikan
D. Semua di atas.

Habis gelap terbitlah sawit?
Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *