Yang merupakan pendamping utama Buddha Pengobatan (Bhaisajyaguru Buddha) dalam ajaran Mahayana. Nama lengkapnya dalam teks adalah Bhaisajyaraja Tathagata Bodhisattva (Bhagavan Bhaisajyaraja). Ia sering disebut dalam Sutra Teratai (法華經, Saddharmapundarīka Sutra) dan teks-teks Mahayana lainnya sebagai Bodhisattva yang melambangkan penyembuhan fisik dan batin, serta pengorbanan tanpa batas demi kesejahteraan semua makhluk.
1. Penyembuh Fisik dan Batin Bhaisajyaraja dikenal sebagai simbol pengobatan Dharma, bukan hanya menyembuhkan penyakit jasmani, tapi juga penyakit batin seperti kemelekatan, kemarahan, dan kebodohan. la mewakili transformasi penderitaan menjadi pencerahan.
2. Pengorbanan Agung Dalam Sutra Teratai (Bab 23), diceritakan bahwa Bhaisajyaraja pernah membakar tubuhnya sendiri untuk persembahan pelita Dharma kepada Buddha, sebagai simbol bentuk tertinggi dari dana paramita (kesempurnaan kemurahan hati). Pengorbanan ini bukan hanya simbol pengabdian, tetapi juga mengajarkan bahwa praktik spiritual sejati adalah tentang melepas ego dan melayani semua makhluk dengan penuh welas asih.
3. Pelindung Para Penyembuh Ia juga dianggap sebagai pelindung bagi dokter, tabib, dan semua praktisi kesehatan yang menjalankan profesinya dengan niat mulia. Ia memberi inspirasi bahwa penyembuhan sejati datang dari niat welas asih dan kesadaran batin.
Dalam Bab ke-23 Sutra Teratai, Buddha Shakyamuni memuji Bhaisajyaraja Bodhisattva sebagai contoh bodhicitta yang telah terealisasi melalui tindakan nyata. Buddha mengatakan: “Beliau telah melampaui penderitaan melalui penyembuhan. Ia menggunakan obat Dharma untuk menyelamatkan semua makhluk dari kelahiran dan kematian.”
“Pengorbanan, ketulusan, dan welas asih adalah obat sejati bagi dunia.” Ketika tubuh dan hati terluka, ingatlah: Bhaisajyaraja hadir untuk menuntun kita menuju penyembuhan sejati. Penyembuhan sejati bukan hanya soal mengobati tubuh, tetapi juga tentang memurnikan hati, melepaskan keakuan, dan mengembangkan welas asih tanpa batas. Menghormatinya bukan sekadar melalui doa atau ritual, tetapi juga dengan meneladani semangatnya: melayani dengan cinta kasih, menyembuhkan melalui kebijaksanaan, dan hidup dengan hati yang terbuka bagi semua makhluk. “Sembuhkan diri. Sembuhkan dunia.” Namo Bhaisajyaraja Bodhisattva Puja hormat bagi Sang Raja Obat, pelindung kehidupan dan penyembuh dunia.
Sumber: Mudita Center
Leave a Reply