Skanda Bodhisattva, juga dikenal sebagai (Wéituó Púsà), adalah Bodhisattva yang melindungi Dharma. Arca Skanda Bodhisattva dapat ditemukan berada di sebelah Buddha Sakyamuni, di samping, atau di belakang Bodhisattva Maitreya. Bodhisattva ini digambarkan mengenakan pakaian perang lengkap dengan tangan memegang gada penakluk iblis, berwajah tampan, serta mengenakan seragam dewa perang dengan ruyung, yaitu sejenis pedang berjeruji, dan selendang dewata.
Wéituó Púsà adalah satu-satunya dewa yang diberi gelar “Bodhisattva”. Hal ini karena diramalkan bahwa di masa depan dia akan diangkat menjadi Buddha Rucika yang memiliki makna tangisan haru. Peranannya adalah melindungi Dharma dan membantu para makhluk hidup mencapai pencerahan. Wéituó Púsà sering digambarkan sebagai penjaga vihara atau kelenteng Buddha. Biasanya, la berdampingan dengan Sangharama Bodhisattva (Qiélán Púsà) yang berwujud hitam, berjanggut, dan memegang gandao atau tonggak pedang yang sangat panjang, besar, dan berat. Terkadang, Wéituó Púsà juga dipuja secara tersendiri.
Hari lahir Wéituó Púsà diperingati pada tanggal 3 bulan 6 dalam kalender lunar. Beliau adalah putra seorang raja langit yang karena kebajikannya diangkat oleh Buddha Sakyamuni sebagai pelindung Dharma (dharmapala). Oleh karena itu, Beliau memiliki kewajiban untuk melindungi anggota-anggota Sangha jika mereka mengalami gangguan dari Mara Penggoda.
Dalam cerita Putri Miao Shan, Beliau adalah seorang panglima tertinggi yang melindungi Putri Miao Shan dalam perjalanan pembebasannya. Namun dalam kisah lain, Beliau adalah seorang pangeran yang menjadi pelindung Dharma dan berhasil mengalahkan para siluman yang berusaha mencuri relik Buddha Sakyamuni.
Sumber : Mudita Center
Leave a Reply