Jabatanmu bukan milikmu, itu cuma dipinjamkan.
Kartu nama, gelar, panggilan “Pak” dan “Bu”, semuanya
bisa ditarik kapan saja, dan biasanya tanpa pemberitahuan.
Karier bisa runtuh, uang bisa habis, nama bisa memudar. Ini semua sudah kita tahu. Yang jarang kita lanjutkan: lalu apa yang tinggal?
Ada bait Buddhis Tionghoa yang sudah beredar berabad-abad: 萬般帶不去(wàn bản dài bú qù)- “Dari sepuluh ribu hal, tak satu pun bisa dibawa.”
唯有業隨身(wéi yǒu yè suí shen) – “Hanya perbuatan yang mengikuti.”業(ye) artinya perbuatan, bukan hukuman, bukan ancaman. Cuma: apa yang kamu lakukan.
Jujur, ini pepatah bukan kutipan sutra.
Sumber Tionghoa biasanya membukanya dengan “kata orang dahulu.” Kami tetap memakainya, dan menyebut asalnya terbuka.
“Orang akan selalu ingat cara kamu memperlakukan mereka.” Tapi mereka juga akan lupa, dan mereka juga akan pergi.
Yang mengikuti bukan ingatan mereka.
Setiap kali kamu memperlakukan seseorang, kamu tidak sedang membangun reputasi. Kamu sedang melatih diri jadi orang seperti apa, dan itu yang ikut.
Cara kamu memperlakukan orang yang tidak bisa memberimu apa-apa.
Pelayan, satpam, driver, orang di ujung telepon.
Di situ tidak ada penonton.
Semua yang kamu punya sedang dipinjam. Yang benar-benar milikmu cuma cara kamu memperlakukan orang selagi memegangnya.
Leave a Reply