Ada lagu yang lagi sering diputar, tentang takut kehilangan rasa kagum saat kita makin dewasa.
Dan diam-diam, mungkin kamu merasakannya juga.
Makin besar, dunia terasa makin berat. Kita belajar waspada, belajar sinis, belajar “nggak gampang kagum.” Pelan-pelan, apinya meredup.
Tapi ada kabar yang menenangkan. Dalam Dharma, rasa takjub bukan sifat kekanak-kanakan. Justru ia sering jadi pintu awal sebuah kebijaksanaan.
Ada dua rasa yang dikenali dalam Dharma:
• Samvega, getar saat sadar hidup ini singkat & rapuh
• Pasāda, keyakinan jernih bahwa ada jalan keluar. Kagum + arah, Itulah apinya.
Yang menarik, pasāda itulah yang menjaga agar keterguncangan tidak berubah jadi kepahitan dan sinisme. Kita boleh melihat dunia apa adanya tanpa harus ikut mengeras.
Lalu “kepolosan” yang katanya hilang itu? Dalam Dharma, batin pada dasarnya bercahaya. Sinis, jenuh, mati rasa, mereka hanyalah “tamu,” bukan dirimu yang sejati.
Dan kabar terbaiknya adalah hukum anicca, tak ada yang menetap. Hati yang sempat dingin, bisa hangat kembali. Yang meredup, bisa dinyalakan lagi..
• Lihat satu hal seolah pertama kali.
• Syukuri yang kecil-kecil.
• Tetap berbaik hati (metta) di dunia yang keras. Pelan-pelan saja.
Jadi saat dunia terasa berat, jangan biarkan rasa kagummu ikut padam. Tetaplah memandang dunia dengan mata yang takjub.
Leave a Reply