CNN Indonesia (2026)
Hoegeng Iman Santoso (1921–2004), Kapolri 1968–1971, dikenang sebagai teladan polisi jujur dan sederhana
Lahir di Pekalongan, ia pernah memimpin imigrasi dan menjadi menteri di era Presiden Soekarno.
Pegangannya:
“Baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik.”
Kalimat yang pas banget untuk zaman yang haus validasi.
Saat diangkat jadi kepala imigrasi, ia meminta istrinya menutup toko bunga:
“Tidak adil untuk toko-toko bungan lainnya.”
Belum ada yang menyogok, tapi ia sudah menutup celahnya.
integritas bukan cuma menolak suap, Tapi juga mencegah konflik kepentingan sejak awal, bahkan kalau itu berarti keluarga sendiri ikut berkorban.
Bertugas di Sumatera Utara, rumahnya diisi kulkas, piano, sampai sofa mahal dari bandar judi. Semuanya ia keluarkan ke depan rumah.
Jam kantor mulai 07.00, tapi Hoegeng datang pukul 05.30.
Ia juga masih turun mengatur lalu lintas di perempatan.
Kisahnya:
Saat ia menjadi menteri pada 1966,
sekretarisnya pernah bertekad datang
lebih pagi, tapi tetap kalah. sejak itu
Hoegeng selalu datang pukul 05.30.
Fun fact lain:
ia hobi musik Hawaii dan pernah tampil di
TVRI bersama The Hawaiian Seniors.
Integritas itu konsisten, bukan sekali-
sekali.
Ia menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Alasannya bikin meleleh.
Kata putranya,
Aditya, Hoegeng berpesan:
“Kalau saya dimakamkan di Makam Pahlawan, Ibumu tidak bisa ada di sebelah saya.”
Ia pun dimakamkan di makam keluarga di Bogor. Februari 2026, Eyang Meri wafat di usia 100 tahun dan dimakamkan di samping pusaranya.
Gelar dan kehormatan bukan yang utama baginya.
Gus Dur pernah berkelakar:
Polisi jujur di Indonesia cuma tiga, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.
Candaan itu bukan untuk merendahkan. banyak polisi baik hari ini.
Namanya kini dipakai untuk Hoegeng Awards,
penghargaan polisi teladan yang menurut penyelenggaranya tidak dirancang sebagai kontes popularitas.
Fun fact:
Hingga penganugerahan 2025, Hoegeng belum bergelar Pahlawan Nasional, tapi
namanya tetap harum.
Dhammapada 81:
Seperti sebongkah batu tak goyah diterpa angin, orang bijak tak goyah oleh pujian maupun celaan.
Dhammapada 55:
Harum bunga tak bisa
melawan arah angin, tapi
harum orang baik bisa; orang
berintegritas menebar harum
ke segala arah.
Buddha juga menyebut dua penjaga dunia (AN 2.9):
rasa malu berbuat jahat (hiri) dan rasa gentar akan akibatnya (ottappa).
Hoegeng menjaga keduanya, bahkan saat tak ada yang menonton.
“Bukan validasi yang utama, tapi integritas. Kebaikan yang tetap kita kerjakan, meski tak ada yang tahu.”
Sutra Intan (Mahāyāna):
Bodhisattva berdana tanpa melekat pada apa pun, dan pahalanya tak terukur, seluas angkasa.
Di dunia yang makin carut-marut, kebaikan yang diam-diam tapi konsisten justru paling dibutuhkan.
Tantangan Kebaikan Diam-diam: Minggu ini, lakukan satu kebaikan tanpa diunggah dan tanpa diceritakan.
Bayar parkir walau tak ada tukang parkir,
kembalikan kelebihan uang kembalian,
bantu rekan kerja tanpa perlu disebut namanya.
Leave a Reply