Ini bukan isu baru. 2.500 tahun lalu, Buddha sendiri punya seorang murid senior berbakat, bahkan berkekuatan batin, Namanya Devadatta. Tapi ia mengejar persis tiga hal itu: harta, tahta, & kuasa atas kelompoknya.(Catatan: ini cermin untuk kita semua, bukan tudingan pada siapa pun.)
Vinaya begitu tegas untuk hal ini, seorang bhikkhu idealnya tak menerima uang/emas untuk dirinya sendiri (Nissaggiya Pācittiya 18). Devadatta justru mabuk oleh persembahan. Kata Buddha: perolehan itu hanya menuju kehancurannya “seperti pohon pisang yang mati oleh buahnya sendiri.”
Tahta. Devadatta ingin menggantikan Buddha memimpin Sangha, ia merasa paling layak. Buddha menyebut untung-hormat-pujian sebagai “kail berumpan” Māra (SN 17). Haus kuasa & pengakuan bukan tanda pencapaian justru tanda masih tertiup angin duniawi.
Politik & Eksklusif
Puncaknya: Devadatta memecah Sangha, menarik murid-murid ke kelompoknya sendiri. Memecah persaudaraan (sanghabheda) adalah salah satu perbuatan terberat. Dan ingin “hanya kelompokku” yang besar berlawanan dengan bodhicitta yang seharusnya merangkul semua makhluk
Bukan otomatis “jahat” tapi racun yang sama (serakah, sombong, memecah) yang Buddha bilang bisa menghancurkan bahkan murid berbakat. Tapi adil ya: kita tak bisa membaca hati. Dana untuk vihara & menumbuhkan komunitas tak buruk. Yang menentukan adalah niat & caranya, apakah untuk semua, atau untuk “aku”?
• Theravāda: sedikit keinginan, rendah hati, tak goyah puji-cela. (Bukan usia-tapi batin yang bersih. Dhp 260)
• Mahāyāna: bodhicitta untuk semua; “tanggung cela, serahkan kemuliaan.”
• Vajrayāna: bebas 8 dharma duniawi; batin yang telah dijinakkan.
Satu ciri menyatukan: Ia menunjuk ke Dharma, bukan ke dirinya & mempersatukan, bukan memecah
Tetap hormat & berwelas asih. Mencaci = kita menelan “kail” kebencian kita sendiri. Tapi jangan ikut buta. Kata Buddha (Kālāma Sutta): Jangan percaya hanya karena wibawa, uji dengan buahnya. Bersandar pada Dharma, bukan pada pribadi.
Dukung yang luhur, mundur santun dari yang tak sehat tanpa menyebar aib & fitnah. Jaga kerukunan. Jangan ikut jadi “kubu”. Dan yang tersulit: Berkaca pada diri. Harta, “jumlah pengikut”, nafsu “membesarkan kelompokku” mengintai kita juga umat, pegiat, & organisasi.
Devadatta pun dulu “berkilau oleh ketenaran”. Tapi ia jatuh karena ego, bukan karena kurang bakat. Sebab kebesaran sejati tak diukur dari besarnya pengikut melainkan dari sekecil apa ego yang tersisa.
Hormat pada guru sejati.
Welas asih pada yang masih berjuang.
Keberanian berkaca pada diri.
Leave a Reply