Dalam riuh rendah dunia yang sering kali dipenuhi dengan perdebatan tanpa ujung, terkadang kita lupa bahwa suara adalah salah satu bentuk ekspresi jiwa yang paling murni. Namun, apa yang terjadi ketika suara tersebut berusaha dipadamkan dengan cara yang begitu mengerikan? Kejadian yang menimpa Andrie Yunus, seorang aktivis yang harus menanggung luka bakar hingga 24% di area tangan, dada, dan mata akibat siraman air keras, bukanlah sekadar sebuah kecelakaan. Ini adalah sebuah pengingat pahit bahwa kekerasan terhadap satu suara sebenarnya adalah kekerasan terhadap kita semua. Apa yang dialaminya bisa saja menimpa siapa pun yang memiliki keberanian untuk berbicara secara jujur.
Perjalanan batin kita dalam menghadapi kenyataan ini sering kali dimulai dari prinsip yang sangat mendasar namun sangat kuat, yaitu ahimsā. Dalam ajaran Dharma, prinsip untuk tidak melukai makhluk hidup bukanlah sekadar sebuah saran yang bisa dipilih, melainkan sebuah fondasi utama bagi kehidupan yang bermakna. Tanpa adanya komitmen untuk menjauhi kekerasan, maka Dharma itu sendiri kehilangan maknanya. Menyiramkan zat kimia berbahaya kepada seseorang hanya karena perbedaan pendapat bukanlah sebuah cara berkomunikasi, melainkan sebuah aksi teror yang harus kita tolak dengan tegas demi menjaga martabat kemanusiaan kita.
Di saat rasa aman seolah menjadi barang mewah yang direnggut dari kehidupan sehari-hari, tradisi Mahayana menawarkan sebuah jalan keluar yang indah melalui konsep abhaya dana. Abhaya dana adalah bentuk pemberian tertinggi, di mana kita tidak memberikan materi, melainkan memberikan rasa aman kepada mereka yang diliputi ketakutan. Ketika hak dasar untuk merasa aman telah dirampas dari saudara kita, tugas kita semua adalah berusaha mengembalikannya. Menjadi “mata” bagi mereka yang diserang bukan berarti kita harus menyetujui setiap kata yang mereka ucapkan, namun itu berarti kita memilih untuk tidak membiarkan kegelapan membungkam kebenaran.
Kesadaran ini membawa kita pada pemahaman tentang paticcasamuppada, atau hukum sebab-akibat yang saling bergantungan. Buddha mengajarkan bahwa setiap makhluk di semesta ini saling terhubung satu sama lain. Jika satu orang terluka, maka luka itu juga menjadi bagian dari luka kita semua. Ketika sebuah kekerasan dibiarkan tanpa adanya penegakan keadilan, hal itu seolah-olah memberikan izin bagi kekerasan berikutnya untuk terjadi. Jika satu suara dibungkam dan kita memilih diam, maka sepuluh suara lainnya mungkin akan memilih untuk tidak lagi bicara karena takut. Siklus gelap ini hanya bisa diputus melalui kesadaran kolektif kita untuk terus peduli dan bertindak.
Menghadapi tantangan kehidupan modern yang kompleks ini, kita diajak untuk tidak menormalisasi kekerasan sebagai sebuah risiko pekerjaan yang lumrah. Langkah kecil seperti menyuarakan solidaritas atau mendoakan pemulihan bagi mereka yang terluka adalah bentuk nyata dari abhaya dana di masa kini. Doa agar seseorang tidak kehilangan harapan di tengah cobaan berat adalah energi positif yang mampu menguatkan batin. Dengan menolak untuk ikut diam, kita sebenarnya sedang belajar untuk menjadi cahaya yang menerangi jalan bagi orang lain yang sedang berada dalam kegelapan.
Pada akhirnya, air keras mungkin bisa melukai fisik dan merusak pandangan mata, namun ia tidak akan pernah sanggup membutakan kebenaran yang sejati. Selama masih ada jiwa-jiwa yang berani untuk melihat dan peduli, maka kegelapan tidak akan pernah benar-benar menang. Mari kita terus melangkah dengan penuh kesadaran sambil melantunkan harapan agar semua makhluk bebas dari rasa takut dan dipenuhi dengan ketenangan batin. Keadilan harus terus diupayakan hingga tuntas, bukan karena kebencian, melainkan karena kasih sayang kita terhadap kebenaran dan kemanusiaan itu sendiri.
Leave a Reply