Mari kita mulai diskusi ini dengan rasa hormat. Argumen Pak Dedi Mulyadi sebenarnya benar dalam satu hal penting: Nusantara kuno tak pernah hanya satu warna. Sebelum pengaruh formal dari luar menguat, tanah ini sudah memiliki akar kepercayaan leluhur yang sangat kokoh seperti Kapitayan dan Wiwitan. Dan beliau juga benar: Melihat sebuah situs purbakala lalu langsung mengecapnya sebagai “Hindu” memang bisa keliru. Sejauh ini, kita sepakat.
Tapi izinkan kami melengkapi satu argumen. Pak Dedi sempat berkata: “Kalau dulu Hindu, mestinya sekarang ada kampung Hindu, tapi nyatanya nggak ada.” Masalahnya, hilangnya kampung Hindu di Jawa Barat adalah buah dari masifnya Islamisasi pada abad ke-15 hingga 16, bukan bukti ketiadaan Hindu di abad ke-5. Buktinya nyata kita bisa lihat di Bali. Tradisi Hindu bertahan kuat di sana justru karena gelombang Islamisasi zaman dulu tidak tuntas masuk ke pulau tersebut. Untuk Tarumanegara Buktinya Bukan Candi Dan khusus untuk Tarumanagara, bukti kebudayaan mereka bukan dinilai dari bentuk fisik candinya melainkan dari prasasti tertulis yang ditinggalkan:
• Ciaruteun – cetakan telapak kaki Purnawarman yang tertulis jelas “laksana telapak Dewa Wisnu”.
• Tugu – catatan selamatan dengan persembahan 1.000 ekor sapi untuk para kaum Brahmana.
• Kebon Kopi – pahatan gajah Airawata, yang merupakan tunggangan Dewa Indra.
Aksara Pallawa, bahasa Sanskerta. Ini adalah teks sejarah, bukan sekadar tafsir bangunan belaka. Maka secara fakta, corak istananya adalah Hindu-Wisnu
Di sinilah Pak Dedi Mulyadi ada benarnya lagi. Klaim bahwa “Istana bercorak Hindu” tidak berarti setiap masyarakat Sunda kuno otomatis menjadi penganut Hindu doktriner yang kaku. Akar kepercayaan leluhur lokal tetap hidup subur, bercampur secara damai dengan ritual formal yang baru, persis seperti yang beliau sampaikan. Jadi, sejarah ini bukan soal “Hindu” atau “Sunda”. Melainkan praktik Hindu di istana, yang berdiri kokoh di atas akar Sunda. Lapisan yang dua-duanya lupa tapi dalam riuhnya debat “Sunda atau Hindu”, ada satu lapisan sejarah penting yang mendadak hilang sepenuhnya: Warisan spiritual Buddha. Dan ironisnya, jejak Buddha tertua di Nusantara ini nyata ada justru di kompleks candi paling kuno dan masyhur di Jawa Barat: Percandian Batujaya, Karawang
Namanya Kompleks Batujaya, Karawang. Sebuah situs percandian Buddha yang dibangun dari susunan bata merah kuno. Menurut arkeolog senior Hasan Djafar, situs ini adalah yang terluas di Jawa Barat, sekaligus kompleks candi tertua di Indonesia. Salah satu bangunan utamanya, Candi Jiwa, memiliki struktur atas berbentuk bunga teratai dan kerap disebut jauh lebih tua dari Borobudur. Jadi, premis Pak Dedi Mulyadi bahwa “jangan melihat candi lalu langsung mengecapnya sebagai Hindu” Justru sangat benar karena candi tertua di tanah Sunda ternyata bercorak Buddha.
Jejak Yang Berbicara Dan jejak kehadiran spiritual ini nyata, bukan sekadar tafsiran bangunan:
• 43 votive tablet – tablet terakota bermandala Buddha yang digunakan umat awam sebagai objek pemujaan dan meditasi.
• Relief keajaiban Sravasti – pahatan sakral yang menggambarkan mukjizat Buddha memancarkan elemen api dan air secara bersamaan.
• Lempengan emas Pallawa – lempeng logam berharga berisi guratan ayat suci Pratītyasamutpāda Sutra.
Semua ini menjadi bukti bahwa Buddha adalah Iman yang hidup dan berakar kuat di tanah Tarumanagara kuno
Gambaran Utuh & Jujur
Maka gambaran paling jujur tentang sejarah kita bukanlah satu warna tunggal:
• Akar Sunda – poin sah yang disampaikan Pak Dedi Mulyadi.
• Istana Hindu-Wisnu – bukti autentik dari prasasti-prasasti batu.
• Buddha di Batujaya – bukti nyata dari penemuan arkeologi.
Pertanggalan Batujaya memang masih diperdebatkan para ahli, fase Buddhanya kemungkinan besar baru menguat di bawah pengaruh era Sriwijaya.) Sejarah tanah ini bukan tentang mono-apa pun. Ia berlapis, dan sejak dulu selalu berdampingan.
Terima kasih, Pak Dedi Mulyadi, karena telah membuka ruang diskusi yang berharga ini. Kami hanya ingin menambahkan satu lapisan ingatan bersama: Hindu, Buddha, dan akar Sunda pernah berjalan seiring dan harmonis di satu tanah. Persis seperti bunyi Rock Edict XII Raja Asoka: “Menghormati keyakinan orang lain, sesungguhnya sedang mengangkat kehormatan kita sendiri.”.
Leave a Reply