Ia mengkritik agama yang membuat manusia nyaman dalam penderitaan.
• diam
• pasrah
• takut bertanya
• cuek pada penderitaan
Kritik Marx ada benarnya.
• Ada dukkha.
• Ada sebabnya.
• Ada akhirnya.
• Ada jalannya.
Lihat kenyataan.
Bukan hindari.
Lalu kita berhenti peduli?
Karma bukan alasan untuk apatis.
Welas asih bertanya: “Apa yang bisa saya bantu?”
Bukan menutup mata dari dunia.
Tapi menjernihkan pikiran agar kita tahu
• kapan harus diam.
• kapan harus bertindak.
Kalau agama membuat kita terlena.
Tapi Dharma seharusnya melakukan hal sebaliknya: Membangunkan.
“Apakah agama itu candu?”
Tapi:
Setelah belajar Dharma, apakah kita lebih sadar dan lebih peduli? Kalau belum, Mungkin cara kita menjalaninya, perlu diperiksa.
Setuju atau tidak?
Leave a Reply