Bukan otomatis:
• manja.
• cuek.
• keras kepala.
• tidak sopan.
Autisme berkaitan dengan perkembangan dan cara otak memproses dunia. Dan setiap orang autistik bisa memiliki kebutuhan yang berbeda, nyaman dalam penderitaan.
Meltdown bukan sekadar “ngambek”.
Shutdown bukan berarti “cuek”.
Kadang sistem mereka sudah menerima terlalu banyak beban. Saat itu, yang dibutuhkan pertama kali bisa jadi ruang untuk regulasi, bukan tambahan tekanan.
• “Kenapa tidak menatap mata?”
• “Kenapa harus begitu?”
• “Kenapa hal kecil saja bikin kesal?”
Yang mungkin mereka alami: terlalu banyak suara, cahaya, sentuhan, perubahan, atau informasi sekaligus. Hal yang biasa bagi kita belum tentu terasa biasa bagi mereka.
Inilah yang sering tidak terlihat.
Sebagian orang autistik belajar masking, Meniru.
Menahan reaksi, Memaksa diri terlihat “normal”.
Dari luar terlihat baik-baik saja.
Di dalam, bisa sangat melelahkan.
Batas tetap boleh ada. Nasihat tetap boleh diberikan. Tapi caranya bisa berbeda.
• Kurangi menghakimi
• Jelaskan dengan konkret.
• Berikan waktu.
• Dengarkan kebutuhannya.
Inklusi bukan menghapus batas.
Inklusi adalah membuat batas bisa dipahami.
Buddhisme sudah mengingatkan kita:
“Jangan merendahkan siapa pun, di mana pun.”
(Karaṇīya Metta Sutta, Sutta Nipata 1.8).
Dalam Lotus Sutra, Bodhisattva Never Disparaging juga memilih menghormati setiap orang yang ditemuinya (Lotus Sutra, Bab 20).
Mungkin kita tidak akan pernah sepenuhnya merasakan dunia mereka. Tapi kita bisa berhenti bertanya: “Kenapa kamu begini?”
dan mulai bertanya:
• “Apa yang membuatmu kewalahan?”
• “Bagaimana saya bisa membantumu?”
Karena mettä bukan sekadar merasa kasihan. Metta juga berarti belajar memahami. Dengarkan. Pahami. Jangan meremehkan.
Leave a Reply