Politik praktis sering bergerak pada:
• Mendapatkan dukungan
• Membangun koalisi
• Menang dalam kontestasi
• Mempertahankan posisi
Sedangkan latihan spiritual justru mengajak kita:
• Mengurangi kemelekatan
• Melepas ego
• Bersyukur
• Tidak terus-menerus mengejar sesuatu.
Satu mengajarkan cara mendapatkan.
Satu lagi mengajarkan kapan harus melepaskan.
Masalah dimulai ketika identitas agama menjadi identitas kubu.
Begitu muncul:
• “kita” melawan “mereka”
orang mulai sulit berkata:
• “Kelompokku salah.”
Karena mengakui kesalahan terasa seperti melemahkan kubu sendiri.
Akhirnya: yang salah dibela, yang benar diserang, bukan karena fakta, tapi karena siapa yang mengatakannya.
Di sinilah organisasi keagamaan bisa perlahan berubah.
Dari tempat pengembangan batin menjadi tempat perebutan pengaruh.
Dari melayani umat menjadi menghitung siapa mendukung siapa.
Dari bertanya:
• “Apa yang bermanfaat?”
• “Apa yang menguntungkan kelompok kita?”
Dan ketika itu terjadi, agama masih ada di papan nama. Tapi semangat spiritualnya bisa makin menjauh.
Dhammapada 75 membedakan dua arah: jalan menuju keuntungan duniawi dan jalan menuju kebebasan batin.
Pesannya bukan berarti umat Buddha harus menjauhi dunia. Pesannya: jangan sampai pujian, status, dan keuntungan menggantikan tujuan latihan.
Buddha memberi perumpamaan indah dalam
Dhammapada 49. Seperti lebah mengambil madu dari bunga tanpa merusak warna dan harumnya, demikian seseorang bergerak di tengah masyarakat.
Ini model yang lebih sehat.
Masyarakat memberi ruang.
Organisasi memberi manfaat.
Tanpa saling mengeksploitasi.
Bukan berarti agama
harus diam soal urusan publik.
Agama tetap boleh membela:
Keadilan, perdamaian, lingkungan, kelompok rentan, pendidikan, dan kemanusiaan
Tapi bedakan politik nilai dengan politik praktis. Membela nilai tidak harus menjadi alat memenangkan figur atau kelompok tertentu. Begitu agama harus membela kubunya meski salah, ada yang sudah melenceng.
Organisasi keagamaan akan kuat bukan karena dekat dengan kekuasaan.
Tapi karena masyarakat percaya:
• mereka jujur
• mereka independen
• mereka melayani
• mereka berani mengoreksi siapa pun,
• dan mereka tidak menjual nilai spiritual demi kepentingan sesaat.
Kekuasaan bisa berganti.
Kubu bisa berubah..
Tapi integritas adalah modal yang jauh lebih sulit dibangun kembali
Mungkin
pertanyaan terbesarnya bukan:
“Agama boleh berpolitik atau tidak?”
Tapi:
• ketika kekuasaan datang, apakah agama masih berani mengatakan yang benar?
• Ketika ada keuntungan, apakah masih bisa melepas?
• Ketika kelompok sendiri salah, apakah masih berani mengoreksi?
Karena spiritualitas naik level bukan ketika kita mendapat semakin banyak. Tapi ketika semakin sedikit yang harus kita genggam.
Leave a Reply