Pada 6 Agustus 1943, Sadako baru berusia 2 tahun saat bom atom menghancurkan Hiroshima. Ia selamat tanpa luka yang terlihat, tetapi hampir 10 tahun kemudian, leukemia datang. Di rumah sakit, Sadako mendengar sebuah kepercayaan Jepang lipat 1.000 bangau kertas, dan sebuah harapan dapat terkabul. Ia terus melipat dari kertas obat, kertas pembungkus, apa pun yang tersedia. Harapannya sederhana: “Aku ingin hidup.”
Tapi ceritanya tidak berakhir bersama hidupnya. Teman-temannya bertanya: “Apa yang bisa kita lakukan?” Lalu mereka bergerak. Bukan hanya untuk Sadako. Tapi untuk semua anak yang menjadi korban bom atom.
Lebih dari 3.100 sekolah di Jepang dan dukungan dari 9 negara ikut membantu. Pada 5 Mei 1958, Children’s Peace Monument berdiri di Hiroshima. Hari ini, sekitar 10 juta origami crane dipersembahkan di sana setiap tahun.
Kita tidak perlu memberinya label itu. Tapi kisahnya mengingatkan kita pada semangat Bodhisattva. Dalam ajaran Mahayana, seorang Bodhisattva tidak meninggalkan makhluk lain dan menemukan sukacita dalam menghadirkan kebahagiaan bagi semua makhluk.The Fourfold Accomplishment Mahayana Sutra
Samyutta Nikaya 1.47. Semangat Bodhisattva bukan berarti kita tidak boleh ingin menyelamatkan diri. Sadako ingin hidup. ltu manusiawi. Tapi dari penderitaannya, lahir sesuatu yang jauh melampaui dirinya. Satu kehidupan menggerakkan jutaan orang untuk mendoakan perdamaian. Penderitaan tidak harus menjadi akhir dari sebuah kisah. Ia bisa menjadi alasan bagi manusia lain untuk menumbuhkan welas asih.
“This is our cry. This is our prayer. For building peace in this world.” Hari ini, perdamaian tidak dimulai dari monumen. Ia dimulai dari kita. Kurangi kebencian. Hentikan kekerasan. Jaga ucapan. Rawat welas asih. Jangan wariskan luka yang sama ke generasi berikutnya.
Kisah Sadako Sasaki dan seribu bangau kertas demi harapan di Hiroshima. Untuk Sadako dan semua anak yang menjadi korban perang. 献给贞子以及所有深受战争伤害的儿童
Leave a Reply