Sebuah penelitian meminta 2.250 orang melaporkan apa yang sedang mereka lakukan dan pikirkan sepanjang hari. Hasilnya:
hampir 47% waktu pikiran mereka sedang memikirkan sesuatu selain yang sedang terjadi. Dan ketika pikiran lebih sering “pergi”, mereka cenderung merasa kurang bahagia.
Merencanakan hidup itu penting. Yang jadi masalah:
tubuh ada di hari ini, tapi pikiran terus hidup di “nanti”.
“Nanti kalau sukses…”
“Nanti kalau punya uang…”
“Nanti kalau semuanya beres…”
Sampai hidup berubah menjadi ruang tunggu.
Masa depan
↓
Target baru
↓
“Belum cukup”
↓
Target berikutnya
↓
Lupa menikmati yang sudah ada, kita terus bergerak. Tapi tidak pernah benar-benar merasa sampai.
Masa lalu, masa depan, bahkan masa kini tidak bisa
digenggam secara tetap. Bukan berarti jangan punya rencana. Jangan membangun seluruh hidup di atas sesuatu yang terus berubah.
Dalam teks Prajñaparamita, fenomena dibandingkan dengan mimpi, embun, gelembung, kilat, dan awan. Bukan supaya kita pesimis. Justru supaya kita sadar: Karena tidak selamanya, maka jangan terlalu menyepelekannya.
Tapi:
• makan bersama
orang tua,
• obrolan receh
dengan teman,
• perjalanan pulang,
• suara seseorang
yang dulu selalu ada.
Hal biasa sering baru terasa berharga ketika sudah menjadi kenangan.
Hidup di saat ini bukan berarti:
• tidak punya ambisi
• tidak menabung,
• tidak merencanakan masa depan.
Artinya: Kamu tetap mengejar besok tanpa mengorbankan seluruh hari ini.
Hal biasa apa yang paling akan kamu rindukan?
• Makan bersama keluarga?
• Chat seseorang?
• Suara orang tua?
• Perjalanan pulang?
• Ngobrol dengan teman?
Tulis SATU di kolom komentar. SAVE sebagai pengingat untuk tidak hidup hanya demi “nanti”. SHARE ke seseorang yang akhir-akhir ini terlalu sibuk mengejar masa depan.
Leave a Reply