Permen karet, corat-coret, hingga cungkilan relief Museum dan Cagar Budaya (MCB) Unit Warisan Dunia Borobudur mencatat setidaknya terdapat lebih dari 3.000 titik noda permen karet di permukaan lantai hingga ornamen arsitektur candi. Titik-titik noda permen karet ini pun masih dengan mudah dapat disaksikan.
“Noda permen karet ini mempercepat kerusakan dan pelapukan batu Candi Borobudur, kata Hari Setyawan, seorang arkeolog dan juga Koordinator Kelompok Kerja Perawatan Candi Borobudur. Hari mengatakan perilaku membuang permen karet sembarangan di batu-batu candi telah terjadi sejak Borobudur dibuka untuk kunjungan umum. “Sehingga banyak noda-noda yang sudah sulit untuk dihilangkan, katanya yang bekerja untuk Candi Borobudur sejak 2010 lalu.
Selain permen karet, kata Hari, aksi vandalisme yang dilakukan berupa corat-coret dan mencuil relief candi juga kerap ditemui. Hari lalu mengajak saya melihat salah satu stupa, yang mitosnya jika menyentuh bagian dalam akan mendapatkan keberuntungan. Saya melihat pahatan bunga teratai yang melingkari stupa telah menipis dan rusak.
“Kalau satu orang, dua orang, sepuluh orang tidak apa-apa. Ini ribuan, jutaan orang naik ke situ. Akibatnya, batunya akan aus, dua strukturnya mudah rusak karena badan mendorong struktur ke arah dalam saat ingin menyentuhnya,” kata Hari. Data MC pada 2019 menunjukan nilai akumulatif keausan batu Candi Borobudur mencapai 3,95 sentimeter, meningkat dari 3,78 sentimeter pada tahun sebelumnya.
Bahkan, ada beberapa batu yang tingkat keausannya mencapai lima sentimeter. “Maka perlu diambil tindakan meminimalisir dampak itu dengan pembantasan kunjungan,” kata Hari.
Sumber: bbc.com/indonesia | Kisah satu keluarga lintas generasi merawat candi Buddha terbesar di dunia – Saya dilahirkan untuk melestarikan Borobudur
Leave a Reply