Di hampir semua tradisi, menjadi seorang biksu (bhikkhu) diawali dengan mencukur rambut.
Aturannya tercatat di kitab Vinaya: rambut tak boleh lebih panjang dari 2 jari, atau 2 bulan.Dicukur dengan pisau, bukan gunting.
Tapi… kenapa?
Karena mencukur rambut itu sebuah simbol. Simbol melepaskan kesombongan, kemelekatan pada penampilan, pada ego.
Di India kuno, rambut panjang & terawat adalah tanda status & kasta tinggi. Maka saat Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, ia memotong rambut panjangnya melepaskan status kerajaannya.
Ada nuansa yang indah di sini.
Rambut itu tumbuh lagi. Jadi mencukur harus diulang. Lagi, dan lagi. Sebuah latihan pelepasan yang tak pernah benar-benar “selesai”.
(Menariknya: Buddha sendiri dalam arca justru digambarkan berambut ikal bukan gundul.)
Tapi inilah yang sering tak kita sadari.
Aturan mencukur itu ketat dalam tradisi seperti
Theravada biksu mencukur tiap ±2 minggu.
Tapi Buddhisme itu luas.
Dan ada tradisi-tradisi lain yang bentuknya berbeda.
Setelah reformasi era Meiji, tahun 1872, pemerintah mencabut kewajiban rohaniwan untuk selibat & bergundul.
Maka hari ini, banyak pendeta Buddhis Jepang terutama tradisi Tanah Suci (Jodo Shinshu) yang berambut, menikah, & berkeluarga. Dan itu sah dalam tradisi mereka. Mereka “pendeta”, bukan “biksu selibat” dalam arti Vinaya.
Guru Padmasambhava membagi Sangha menjadi
dua cabang:
•Sangha Merah, biksu-biksuni bergundul, jubah marun.
•Sangha Putih, para ngakpa & ngakma: yogi tantra berambut panjang (sering dikepang), berjubah putih.
Mereka bukan biksu palsu. Bukan pula sekadar “awam”. Mereka kategori ketiga: praktisi tantra bervow, boleh berkeluarga.
Jadi, seorang rohaniwan berjubah tapi berambut sering kali bukan biksu palsu. Melainkan kategori yang berbeda, seorang pendeta Jepang, atau seorang ngakpa Vajrayana.
Rambut & jubah adalah bentuk.
Dan bentuk itu berbeda-beda di tiap tradisi.
Tidak rambutnya.
Tapi praktiknya, Sumpah yang ia jaga.
Kebijaksanaan & welas asih yang ia wujudkan.
Lakunya sehari-hari.
Jangan menilai keaslian & keluhuran seseorang dari rambutnya. Bentuk boleh beragam inti-nya, satu.
Jadi, kalau kamu bertemu rohaniwan berjubah tapi berambut bagaimana sebaiknya?
•Hormati – seperti pada rohaniwan mana pun.
•Jangan buru-buru menghakimi atau menginterogasi soal rambutnya.
•Kenali tradisinya – dengan rasa ingin tahu, bukan curiga.
Karena ukuran keluhuran seseorang tak pernah ada di rambutnya melainkan di hati & lakunya.
Leave a Reply