Setiap tahun, sebuah lembaga independen, World Heritage Watch, menerbitkan laporan yang dibawa ke Komite Warisan Dunia UNESCO. Semacam “suara masyarakat sipil dunia” memberi peringatan dini bagi situs warisan yang menghadapi ancaman. Di World Heritage Watch Report 2026 (Berlin), halaman 44-49, ada artikel tentang Borobudur.
Dan ini penting: Penulisnya bukan orang asing yang asal berkomentar. Ia Catalin Ivanco, anggota ICOMOS Indonesia, profesional warisan budaya dengan latar World Heritage Studies, yang berbasis di Indonesia. Artinya, peringatan ini datang dari dalam, dari mereka yang mencintai & memahami warisan kita.
Inti laporannya: Rencana memasang chattra di stupa induk dinilai mengancam keaslian & keutuhan Borobudur. Tapi mari adil sejak awal. Chattra adalah simbol yang indah dalam tradisi Buddhis. Kerinduan untuk memuliakan Borobudur itu tulus & suci. Kami berdiri bersama kerinduan itu. Persoalannya bukan niat melainkan caranya.
Dari empat kekhawatiran laporan, keselamatan adalah prioritas utama yang harus menyatukan semua pihak. Kajian BRIN menyebut batu stupa induk rapuh dan sangat berbahaya jika dibebani chattra seberat 800 kg di zona rawan gempa, yang mana kerusakan Borobudur tak bisa di-undo.
Laporan independen World Heritage Watch 2026 menyoroti tiga kekhawatiran utama terkait pemasangan chattra di Borobudur:
• Kurangnya bukti arkeologis.
• Belum diserahkannya HIA secara resmi kepada UNESCO.
• Fokus yang lebih condong pada target pariwisata daripada konservasi.
Laporan tersebut mencatat bahwa Theodor van Erp sendiri menurunkan chattra yang pernah dipasangnya, sementara prosedur dampak warisan budaya dinilai belum lengkaр.
“Ini urusan umat Buddha & pemerintah saja, kan?” Izinkan kami berkata tulus: Borobudur milik kita semua. Dahulu, banyak negara ikut menyelamatkannya (pemugaran 1973-1983). Ia warisan bersama umat manusia. Dan momennya genting: Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 di Busan, 19-29 Juli 2026 kurang dari sebulan lagi.
Jika dipasang tergesa tanpa kajian yang benar:
• Kerusakan fisik yang tak terpulihkan
• Pelanggaran prosedur yang bisa menyeret sorotan UNESCO dan nama baik bangsa yang dipertaruhkan menjelang sidang Busan.
Taruhannya bukan main-main.
Maka sikap kami, Young Buddhist Association, mungkin tak Anda duga, Kami bukan menolak chattra. Kami hanya menyerukan satu kata sederhana: “tunda dulu.” Tunda bukan batalkan. Pasang nanti, dengan benar: lewat HIA independen, dialog BRIN & arkeolog. Justru karena kami mencintai Borobudur dan ingin chattra ini berhasil. Faith and Science.
Tulisan ini adalah sebuah ajakan, bukan serangan kepada siapa pun. Bukan kepada pemerintah yang kami yakini beriktikad baik, dan bukan pula kepada sesama umat yang kerinduannya sangat kami pahami. Borobudur telah bertahan selama 12 abad melewati badai sejarah. Kini, giliran generasi kita yang menjadi penjaganya. Mencintai Borobudur bukan diukur dari seberapa cepat kita menghiasnya melainkan seberapa bijak kita merawatnya.
Leave a Reply