Di Magelang, Jawa Tengah tepat di sebelah Candi Mendut yang berusia 1.200 tahun lebih, sebidang tanah seluas 200 meter mulai ditata. Yayasan Mendut yang baru dibentuk mengelola tanah itu. Pengurus awalnya termasuk: Ibu Soepangat Prawirokoesoemo, Bapak Suradji, dan beberapa umat awam yang lupa nama mereka tercatat di catatan sejarah. Mereka memutuskan: Di sini akan dibangun sebuah vihara. Pada tanggal 2 Januari 1976 seorang samanera muda berusia 21 tahun pindah ke tanah itu. Namanya saat itu: Tejavanto. Dua tahun kemudian, di Bangkok, ia ditahbiskan menjadi bhikkhu dengan nama baru: Paññāvaro. “Yang unggul dalam kebijaksanaan.” Dan sampai hari ini 50 tahun kemudian beliau masih di tempat yang sama. Mungkin satu-satunya bhikkhu Indonesia yang berdiam di satu vihara selama setengah abad.
Tapi Sebuah Vihara Tidak Berdiri Karena Satu Orang dan yang patut dihormati
• Para sesepuh Yayasan Mendut yang menjaga sejak awal.
• Para umat Magelang yang membersihkan halaman setiap minggu, tanpa pamrih.
• Para dermawan dari Jakarta hingga Sumatra yang membantu pendanaan selama puluhan tahun.
Termasuk kontribusi besar dari Ibu Siti Hartati Murdaya yang mendukung banyak vihara di Indonesia selama lebih dari tiga dekade. Tidak ada vihara yang besar tanpa banyak tangan
Yang pertama semua karyawan vihara ini beragama Muslim. Bhante Pannavaro pernah bercerita kepada tamu yang datang: “Mereka semua Muslim. Sudah saya anggap seperti keluarga sendiri.” Selama 50 tahun, azan dari masjid sebelah dan paritta dari vihara terdengar bersama setiap hari. Tidak ada yang menggugat. Tidak ada yang panik. Yang kedua Vihara Mendut adalah satu-satunya vihara modern yang berdiri di sebelah candi Buddha kuno yang masih berfungsi. Candi Mendut berdiri abad ke-9. Vihara Mendut berdiri tahun 1976. Antara keduanya ada jarak 1.200 tahun. Tapi dari altar vihara, kamu bisa melihat silhouette Candi Mendut saat matahari terbenam. Satu pemandangan yang menghubungkan Buddha masa lalu dengan Buddha masa kini. Yang ketiga Selama puluhan tahun, prosesi Waisak Nasional Walubi selalu dimulai dari kawasan Mendut. Rute berjalan dari Vihara Mendut menuju Candi Mendut, Candi Pawon, dan berakhir di Candi Borobudur. Di balik prosesi ini, Ibu Hartati Murdaya (Walubi) dan Bhante Pannavaro (Sangha Theravada Indonesia) sebenarnya berasal dari faksi berbeda dalam sejarah Buddhisme Indonesia. Tapi setiap Waisak tiba, mereka selalu berbagi ruang yang sama di kawasan ini, membuktikan tempat tersebut menjadi rumah bagi semua yang ingin merayakan.
Buddhisme Indonesia punya banyak faksi. Punya banyak sejarah yang tidak selalu mudah. Tapi ada tempat-tempat yang bertahan karena mereka melampaui pertengkaran kita. Vihara Mendut adalah salah satunya. Bhante Pannavaro masih di sana, Walubi masih datang ke sana, Umat dari semua majelis masih datang ke sana. Karena Dhamma yang sejati selalu lebih besar dari nama organisasi yang menjaganya.
Kamu bergabung, Terlepas dari sangha manapun yang kamu hormati. Ada satu hal yang Buddha ajarkan dengan jelas di Mangala Sutta: “Pūjā ca pūjaneyyānaṃ.” Menghormati mereka yang patut dihormati. Bhante Pannavaro patut dihormati. Ibu Hartati patut dihormati. Para sesepuh Yayasan Mendut patut dihormati. Dan ribuan umat yang membersihkan, mendoakan, dan menjaga tempat ini selama 50 tahun mereka juga, semua, patut dihormati.
Leave a Reply