Tapi disambut iklan:
“di sini paling sakti, paling murni, paling tinggi.”
Kesucian jadi kompetisi. Pencapaian jadi brosur.
Umat ditarik bukan oleh Dhamma, tapi oleh klaim.
Mengklaim palsu pencapaian batin luhur?
Itu parajika – pelanggaran terberat, pengusiran dari Saṅgha.
Saat diminta pamer kesaktian demi menarik percaya, Buddha menolak. Keajaiban sejati, kata-Nya, adalah keajaiban pengajaran. (DN 11)
Yang sungguh matang tak perlu mengiklankan diri.
Pencapaian sejati makin dalam, makin rendah hati.
Pilih guru bukan dari klaim paling tinggi tapi dari buahnya.
makin damai? makin kasih? makin rendah hati?
Dan jangan-jangan… kita juga?
Diam-diam ingin terlihat lebih suci, lebih maju,
lebih spiritual dari yang lain?
Tak ada pemenang dalam lomba kesucian. Yang ada hanya jalan yang dijalani diam-diam, itulah kemenangan sejati.
Leave a Reply