Penampilan Bukan Penentu Wajahnya garang. Mahkotanya tengkorak. Pisaunya terangkat tinggi. Refleks kita: Takut. Padahal kita sedang salah membaca.
Dalam bentang tradisi Vajrayana-Mahayana, rupa yang menggetarkan ini bernama Mahakala. Ia bukanlah manifestasi iblis setan, melainkan seorang Dharmapala, sang pelindung ajaran Dharma. Kehadiran sosoknya yang mengerikan tidak bertujuan untuk mengancam kita, melainkan ia berdiri kokoh di garda terdepan untuk menghalau hal-hal yang melemahkan hati dan batin kita.
Rasa murka yang terpancar dari wujud-Nya sama sekali bukanlah bentuk kekejaman. Ia digambarkan begitu garang justru bertujuan agar segala bentuk ketakutan di dalam batin kita menjadi takut dan gentar lebih dulu sebelum mendekat. Ini adalah sebuah esensi perlindungan spiritual yang mewujud dalam bentuknya yang paling kuat dan tak tergoyahkan.
Pisau ritual berbentuk melengkung yang dipegang erat. oleh-Nya sama sekali tidak bertujuan memotong kehidupan. Bilah tajam tersebut justru bekerja memotong segala hal buruk yang selama ini membelenggu inti hidup kita: Seperti ego yang tebal, kemelekatan batin, dan kabut ketidaktahuan. Sisi mata bilahnya yang berkait secara khusus disebut sebagai “kait welas asih”-sebuah cengkeraman spiritual kokoh yang bertugas menarik kita keluar secara paksa dari jurang penderitaan (samsara).
Mahkota berhiaskan tengkorak yang dikenakan di kepala-Nya sama sekali bukan untuk merayakan kematian. Lima buah tengkorak itu melambangkan lima racun batin utama manusia seperti keserakahan, kebencian, ketidaktahuan, kesombongan, dan kecemburuan yang diubah sepenuhnya menjadi lima kebisingan/kebijaksanaan agung (Five Wisdoms). Sementara mangkuk tengkorak (kapala) yang dipegang-Nya bertindak sebagai pengingat mendalam: bahwa aspek batin yang paling gelap sekalipun selalu bisa ditransformasikan menuju pencerahan murni.
Lalu, apa hal berharga yang sebenarnya sedang ia jaga dengan begitu ketat? Objek perlindungannya bukanlah soal mengejar keberuntungan materi di dunia luar sana. Melainkan ia sedang menjaga benteng batinmu sendiri dari serangan musuh yang paling halus, paling senyap, dan paling berbahaya yaitu isi pikiranmu sendiri. Sebab pada akhirnya, rintangan terbesar yang mampu menghancurkan kedamaian kita selalu berada di dalam diri.
Bahkan di dalam tradisi Theravada sekalipun, Sang Buddha menegaskan hal yang sama. Dalam kitab suci Dhammapada 103, Beliau mengingatkan: Bahwa mampu menaklukkan diri sendiri sesungguhnya jauh lebih mulia daripada menaklukkan seribu orang di medan perang. Sebab, kekuatan welas asih murni tidak harus selalu datang menyapa batin kita dengan rupa wajah yang lembut dan ramah.
Itulah pelajaran terbesar dari Mahakala. Bahwa ketegasan spiritual yang menakutkan sering kali menjadi perisai batin yang paling kokoh. Sebab pada akhirnya, hal yang ia genggam erat di tangannya bukanlah senjata pembunuh melainkan sebuah welas asih murni yang bertugas membebaskan kita dari belenggu delusi diri.
Leave a Reply