3 Fakta Unik Ajaran Buddha

Selasa, 20 Januari 2026

Mahkota Borobudur: Iman atau Ilmu Pengetahuan? Mengapa YBA Memilih Keduanya?

Hari ini, Young Buddhist Association (YBA) hadir dalam Rapat Tindak Lanjut Pemasangan Chattra Adaptasi di Kementerian Agama Republik Indonesia dan menyampaikan pernyataan sikap resmi melalui surat Nomor: 1/28/C/YBA/I/2026. YBA menyatakan dukungan pada Tahap 1 penyusunan dokumen perencanaan Chattra, namun dengan syarat yang ketat. Organisasi pemuda Buddhis ini menegaskan bahwa aspirasi spiritual harus berjalan selaras dengan tanggung jawab ilmiah dan kepentingan bangsa. YBA mengingatkan agar tidak mengulangi kesalahan tahun 2024-2025, ketika rencana peresmian dan undangan Sangha dunia sudah dipublikasikan sebelum kajian teknis BRIN selesai. Hal ini sangat tidak elok bagi martabat bangsa karena memberikan kesan bahwa aspirasi spiritual dipaksakan tanpa mengindahkan prosedur ilmiah dan kepentingan umum. Kepentingan spiritual memang mulia, namun martabat Indonesia sebagai penjaga warisan dunia UNESCO jauh lebih tinggi.

 

Salah satu keprihatinan utama YBA adalah potensi politisasi narasi Sabdo Palon dalam konteks pemasangan Chattra. Sabdo Palon adalah sosok legendaris, penasihat Raja Brawijaya V, yang dalam Serat Dharmogandhul bersumpah akan kembali setelah 500 tahun runtuhnya Majapahit untuk memulihkan spiritualitas asli Jawa. YBA sangat mewaspadai narasi “Sabdo Palon Nagih Janji” yang sering ditarik ke ranah politik identitas, membenturkan antara Kejawen/Buddha-Hindu dengan Islam. Jika pemasangan Chattra dipandang sebagai simbol “kemenangan kelompok” atau pemenuhan ramalan secara sempit, hal ini berisiko memicu gesekan sosial dan rasa tidak aman bagi pemeluk agama lain di sekitar Borobudur. YBA dengan tegas menyatakan bahwa Borobudur adalah milik bangsa dan menolak narasi yang dipolitisasi untuk memicu konflik horizontal. Toleransi sejati adalah meletakkan kepentingan nasional di atas ego agama. Umat Buddha Indonesia harus menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan harmoni bangsa daripada simbol-simbol kemenangan kelompok.

 

YBA mendukung pendekatan adaptasi menggunakan material logam (perunggu), bukan rekonstruksi fiktif dengan batu. Material logam dinilai lebih ringan untuk struktur candi dan jujur secara arkeologi karena dapat membedakan dengan jelas mana yang asli dan mana yang baru. Chattra memiliki makna spiritual mendalam: pengukuhan (pratistha), tekad (adhisthana), kebajikan (punya), dan sarana penghormatan Triratna. Desain Chattra B yang diusulkan setinggi 16,87 meter mencakup makna simbolis yang kaya—Permata Puncak melambangkan Bodhicitta, Permata Buddha (Buddha Ratna) dengan perlindungan Buddha Sarana, Permata Dharma (Dharma Ratna) dengan perlindungan Dharma Sarana, Permata Sangha (Sangha Ratna) dengan perlindungan Sangha Sarana, serta 10 Tataran Kecerahan (Dasabhumi). Namun perlu dicatat, ada Sangha dan Majelis Buddhis di Indonesia yang tidak menandatangani persetujuan rangkaian Tahap 1 yang diadakan pada 15 Januari di Kementerian Agama RI, menunjukkan masih ada pertimbangan yang perlu didiskusikan lebih lanjut.

 

Proses adaptasi pemasangan Chattra dilaksanakan melalui tujuh tahapan utama: penyusunan dokumen perencanaan adaptasi, pelaksanaan Kajian Dampak Cagar Budaya (KDCB), uji publik atas hasil KDCB, konsultasi dengan UNESCO dan ICOMOS, perbaikan dan penyempurnaan KDCB, pengajuan izin adaptasi kepada otoritas pelestarian Cagar Budaya, dan pelaksanaan adaptasi pemasangan Chattra. YBA menetapkan tiga syarat mutlak untuk persetujuan akhir: pertama, material adaptasi (perunggu) harus digunakan secara jujur sebagai elemen tambahan yang reversible (dapat dilepas), bukan untuk memalsukan sejarah batu asli; kedua, Tahap 4 konsultasi dengan UNESCO dan ICOMOS wajib dilakukan secara terbuka, dan tanpa persetujuan mereka YBA meminta proyek ditunda demi menjaga status World Heritage; ketiga, hasil kajian (KDCB) harus dipublikasikan agar para arkeolog dan masyarakat umum merasa dilibatkan, bukan ditinggalkan.

 

Transparansi adalah kunci agar Borobudur tetap menjadi Warisan Dunia yang membanggakan, demikian YBA menekankan dalam kampanye #KawalBorobudur. YBA mempunyai harapan bahwa Chattra ini akan dapat dijadikan sebagai simbol perlindungan bagi seluruh bangsa, bukan pemantik perpecahan. Organisasi ini tidak ingin sejarah mencatat bahwa demi sebuah simbol fisik, bangsa Indonesia mengorbankan kedamaian batin. Dengan semangat “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta” (Semoga semua makhluk berbahagia) dan ungkapan “Sadhu Sadhu Sadhu,” Limanyono Tanto selaku Ketua YBA Indonesia menutup pernyataan sikap ini. Young Buddhist Association yang telah berdiri sepuluh tahun dengan motto “Tumbuh Bersama Dharma, Bergerak Bersama Pemuda” membuktikan bahwa iman dan ilmu pengetahuan tidak harus bertentangan—keduanya dapat berjalan beriringan untuk kepentingan bangsa yang lebih luhur.

Mahkota Borobudur Iman atau Ilmu Pengetahuan Mengapa YBA Memilih Keduanya
Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *