Mama Hanya Ingin, Kamu Bahagia Lalu?

Kamis, 14 Agustus 2025

Mama Hanya Ingin, Kamu Bahagia Lalu?

Pernahkah kamu, di suatu sore yang hening, menatap wajah ibumu dan bertanya, “Ma, apa yang paling Mama inginkan?” Lalu, dengan senyum yang sederhana, ia menjawab, “Mama hanya mau kamu bahagia.” Jawaban yang tampak singkat, namun di dalamnya terkandung samudera cinta tanpa syarat.

 

Dalam banyak ajaran Buddha, terutama tentang metta (cinta kasih), disebutkan bahwa cinta sejati itu tanpa pamrih, seperti cinta seorang ibu. Ia tak meletakkan kebahagiaan pribadinya di prioritas pertama, karena semua energinya tercurah untuk memastikan anaknya aman, cukup makan, dan merasa dicintai. Kebahagiaan pribadinya kerap tereliminasi, bahkan ia mungkin lupa bahwa ia juga manusia yang punya impian.

 

Lalu kamu kembali bertanya, “Kalau anak Mama sudah bahagia, Mama mau apa?” Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum samar, “Entah… mungkin Mama mau jalan-jalan, atau menikmati sore di tepi pantai.” Tetapi dari sorot matanya, tampak bahwa bahkan jika kesempatan itu datang, kebahagiaan yang ia cari tetap berpusat pada melihatmu tersenyum.

 

Inilah wujud upekkha — keseimbangan batin — yang membuatnya tidak terlalu menggenggam keinginan pribadi, meski itu berarti menahan diri dari petualangan hidupnya sendiri.

 

Seorang ibu telah melakukannya secara alami, menukar waktu, tenaga, dan mimpinya demi anaknya tumbuh damai; pengorbanan yang menjadi ladang kebajikan tak ternilai.

 

Maka, sebelum waktumu habis untuk mengejar bahagiamu sendiri, luangkan waktu untuk memastikan ia juga merasakan kebahagiaannya. Mungkin sudah saatnya, kamu yang bertanya itu, menjadi jawabannya — menjadi alasan ia tersenyum untuk dirinya sendiri.

Mama Hanya Ingin, Kamu Bahagia Lalu?
Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *