Saat marah, kita merasa sedang menyerang orang lain. Padahal yang pertama merasakan panasnya adalah diri kita sendiri, mulai dari jantung berdebar, napas memburu, pikiran gelap, malam jadi susah tidur. Lawan belum tentu terbakar. Kita sudah lebih dulu.
Tapi izinkan kami jujur, ciri khas YBAI: Kalimat “bara api” yang viral itu bukan sabda langsung Buddha. Ia parafrase modern (populer sejak 1987), dari simile asli Buddhaghosa dalam kitab Visuddhimagga (abad ke-5). Kabar baiknya? Ajaran aslinya jauh lebih dalam.
Dalam Kodhana Sutta, Buddha menyebut:
orang yang dikuasai amarah memberi musuhnya tepat yang ia inginkan. Ia jadi buruk rupa, tidur tak nyenyak, salah menilai untung-rugi, kehilangan harta, nama baik, bahkan teman menjauh. Sutta-nya berkata: ia “menderita seakan terbakar api.”
Kenapa amarah begitu berbahaya? Karena, kata Buddha, “orang yang marah tak melihat Dhamma, ia ada dalam kegelapan.” Saat tersulut, kita salah mengira buruk sebagai baik, dan menyesalinya setelah bara padam.
Ada kisah indah. Suatu hari, seorang pria datang dan mencaci-maki Buddha dengan kata-kata kasar. Buddha tidak membalas. Tidak tersinggung. Beliau hanya mengajukan satu pertanyaan yang mengubah segalanya…
“Jika kamu memberi tamu sebuah hadiah, lalu ia menolaknya, milik siapa hadiah itu?” “Tentu kembali jadi milikku.” “Begitu pula caci-makianmu. Aku tidak menerimanya. Maka ia tetap milikmu. “Hujatan yang tak kita terima, kembali ke pengirimnya.
Ini bukan soal memendam amarah, marah itu manusiawi. Dan bukan soal jadi keset. Buddha tetap berkata jujur, hanya saja dengan kepala dingin. Intinya satu: “Taklukkan amarah dengan tanpa-amarah.” (Dhammapada 223) Jangan genggam baranya. Letakkan.
Karena pada akhirnya “Kebencian tak pernah reda oleh kebencian. Hanya oleh cinta-kasih kebencian reda.” (Dhammapada 5) Lepaskan baranya. Tangan yang kamu selamatkan adalah tanganmu sendiri.
Leave a Reply