Di bawah pohon sāla kembar, langit menghujaninya dengan bunga-bunga surgawi. Musik surgawi mengalun.
Sebuah penghormatan yang begitu indah.
Tapi Buddha… justru menyingkirkannya.
“Bukan dengan cara ini, Ānanda,”
kata Beliau:
“Tathāgata dihormati dengan penghormatan yang tertinggi, Melainkan siapa pun yang hidup sesuai Dhamma, yang berjalan di jalan Dhamma, merekalah yang menghormati-Ku paling tinggi.”
(Mahāparinibbāna Sutta)
Dalam ajaran Buddha, ada dua jenis persembahan.
Āmisa-pūjā – persembahan materi, bunga, dupa, & ya membangun. Ini baik. Ia menumbuhkan kedermawanan & moralitas. Tapi Buddha menyebutnya penghormatan yang lebih rendah.
Dan yang tertinggi?
Paṭipatti-pūjā – memahami, & menghidupkan, Dhamma itu sendiri.
Jadi, mari kita jujur pada diri sendiri.
Kita begitu bersemangat mengecor beton, untuk rupang yang makin megah, makin tinggi. Ada bakti di sana dan itu tak salah.
Tapi sebuah komentar Buddhis kuno pernah berkata, mengejutkan: “Bahkan seribu kuil megah… tak cukup untuk menopang Ajaran.”
Karena sebuah rupang bisa dikagumi.
Tapi ia tak bisa menjelaskan hukum karma pada seorang remaja yang sedang bingung & kehilangan arah. Ia menerima dupa tapi ia tak bisa mengajar.
Sebuah sekolah, bisa.
Inilah sentilan lembutnya:
Setiap kali kita mencurahkan sumber daya untuk monumen yang sesungguhnya tak lagi kita butuhkan, sementara anak muda kita tumbuh tanpa pendidikan Dharma.
Kita sedang menghormati wajah Buddha dan melupakan pesan Buddha. Dan Buddha telah memberitahu kita, mana yang Beliau pilih.
Sebuah pendidikan Buddhis dari TK, hingga universitas di mana Dharma, hukum karma, & budi luhur diajarkan.
Kepada murid Buddhis, dan non-Buddhis. Bukan untuk mengubah keyakinan tapi untuk membangun karakter. Bayangkan ribuan anak muda, berlandaskan etika, paham hukum karma.
Sebuah rupang perunggu, suatu hari, akan berkarat. Tapi sebuah batin yang memahami Dhamma itu adalah pagoda yang hidup.
Yang berjalan, Yang mengajar, Yang bertahan, melintasi generasi demi generasi.
Bagi Buddha, tidaklah dicetak dari perunggu, atau dilapisi emas. Ia dicetak, di dalam batin anak-anak muda kita. Yang paham akan karma. Yang berpijak pada etika. Yang membawa Dhamma bukan di altar, tapi di hidup mereka.
Di Young Buddhist Association, kami punya sebuah impian. Membangun pendidikan Dharma, dari TK hingga universitas agar ribuan pemuda tumbuh dengan kebijaksanaan, bukan hanya mengagumi dari kejauhan. Mari, bersama, membangun monumen yang bernapas itu.
Sadhu.
Leave a Reply