Melihat kelebihan seseorang, menghargai kontribusinya, dan mengatakan sesuatu yang baik bisa membuat hubungan lebih hangat. Masalahnya dimulai ketika: pujian tidak lagi jujur. Kita memuji bukan karena benar, tapi karena ada yang kita mau.
Menghargai “Aku salut dengan cara kamu menangani masalah itu.”
Membangun relasi:
“Terima kasih sudah membantu. Aku banyak belajar.”
Menjilat: “Semua keputusan Anda pasti benar, Pak.” padahal 10 menit sebelumnya di belakang: “Ini keputusan apaan sih?”
Kalau mulut dan hati terlalu jauh jaraknya, ada yang salah.
AN 5.198 mengajarkan ucapan yang baik seharusnya: benar, tepat waktu, lembut, bermanfaat, dan lahir dari niat baik.
Jadi kalau pujian kita menyenangkan… tapi kita sendiri tahu itu tidak benar, itu bukan ucapan yang bijak.
Karena manusia ingin sesuatu: jabatan, akses, proyek, pengakuan, perlindungan, atau kedekatan dengan orang berpengaruh.
Itu sangat manusiawi. Tapi bahayanya, semakin kita membutuhkan sesuatu dari seseorang, semakin sulit kita mengatakan kebenaran kepadanya.
Kita tidak perlu berkata: “Pak, ide bapak jelek.”
Kita bisa berkata: “Saya melihat ada risiko di bagian ini. Mungkin ada alternatif yang bisa dipertimbangkan.”
Tetap sopan. Tetap hormat. Tapi tidak menjual kejujuran.
Bisakah kita memuji orang saat ia benar. dan mengoreksinya saat ia salah?
Tanpa berubah menjadi: penggemar ketika diuntungkan, lalu pembenci ketika tidak mendapat sesuatu.
–
Menghormati seseorang bukan berarti menyerahkan kemampuan berpikir kita kepadanya.
Respect without worship.
Kalau maksudnya, ramah, tahu berterima kasih, menghargai, memberi pujian tulus, dan pintar menjaga relasi, silakan.
Tapi kalau harus berbohong, membela yang salah, menghina orang lain demi menyenangkan atasan, atau kehilangan prinsip… harganya terlalu mahal.
Karena koneksi bisa membuka pintu. Tapi integritas menentukan siapa dirimu setelah pintu itu terbuka.
Leave a Reply