Merdeka Bukan Hanya dari Penjajahan Tapi Juga dari Kemelekatan Batin

Sabtu, 16 Agustus 2025

Merdeka Bukan Hanya dari Penjajahan Tapi Juga dari Kemelekatan Batin

Merdeka Melalui Meditasi
Ditulis oleh Nanski Joewono

Awal Agustus lalu, hampir semua kelas pekerja–seperti saya–membahas soal hari libur nasional tambahan di bulan ini. Pembahasan itu heboh setelah Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro mengatakan bahwa satu hari setelah upacara peringatan proklamasi, yakni pada Senin 18 Agustus 2025, menjadi hari libur.

 

Jelas, pernyataan tersebut disambut baik oleh warganet di berbagai media sosial atau banyak karyawan memperbincangkannya di kantor. Teman-teman saya dan saya pun demikian.

 

Selanjutnya, perbincangan kami mengarah pada keputusan berkekuatan hukum seperti SKB 3 Menteri. Ini adalah dokumen yang berfungsi meningkatkan compliance dan kepastian hukum dalam penetapan hari libur dan cuti bersama setiap tahunnya. Bahasa sederhananya, SKB 3 Menteri seperti kebijakan yang dikeluarkan oleh HR dan ditandatangani oleh CEO.

 

Alih-alih menilai pribadi atau jabatan, kita bisa memahami bahwa pernyataan awal pejabat mungkin belum melalui seluruh proses hukum yang berlaku.

 

Dua hari kemudian, kami masih membicarakan tambahan hari libur tersebut. Di antara kami, ada yang sudah merencanakan liburan, ada yang ingin mengambil cuti, dan ada pula yang harap-harap cemas karena SKB 3 Menteri belum juga terbit.

 

Wacana tambahan libur nasional sangat melekat pada pikiran kami. Seperti anak muda yang menunggu restu orang tua, kami menunggu kepastian yang belum keluar secara resmi.

 

Pada akhirnya, SKB 3 Menteri terbit pada Kamis (07/08) malam saat hujan turun deras. Isinya menyatakan bahwa 18 Agustus 2025 adalah CUTI BERSAMA, bukan HARI LIBUR NASIONAL. Padahal sebelumnya, Wamensesneg mengatakan bahwa 18 Agustus sebagai hari libur.

 

Perlu diketahui bahwa perbedaan keduanya sangat signifikan dalam implementasi di perusahaan swasta. Jika keputusan pemerintah adalah cuti bersama, maka pelaksanaannya akan dikembalikan pada kebijakan perusahaan masing-masing.

 

Perubahan ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu bersifat tidak pasti dan dapat berubah.

Menghadapi Ketidakpastian

Di mana pun kita berada, kita sering berhadapan dengan ketidakpastian. Situasi tak pasti yang paling berpengaruh terhadap kehidupan kita adalah pandemi COVID-19. Jadi, perubahan hari libur ke cuti bersama ini sebenarnya urusan “kecil” jika dibandingkan itu, meski tetap berdampak pada perencanaan pribadi.

 

Seharusnya, kita tak perlu berharap banyak ketika ada pejabat mengumumkan sesuatu dan hal itu belum berkekuatan hukum. Semestinya, kita jangan senang dan berharap lebih dengan pernyataan tersebut karena kondisi bisa berubah sewaktu-waktu. Idealnya, sebagai manusia bertumbuh, kita dapat berpikir bahwa semua yang terkondisi tidak kekal.

 

Kenapa kita tidak merenungkan hal ini dari kemarin? Ya, mungkin kita terlambat menyadarinya atau kita terlalu sibuk dengan ide-ide kita loncat ke sana ke mari. Hati-hati, pikiran kita itu licik.

 

Pelajaran yang bisa diambil adalah, “Jangan terlalu melekat pada rencana, sebelum keputusan resmi benar-benar keluar.” Namun, semua sudah terjadi, kita sudah berharap lebih terhadap hari libur. Saat kondisi berubah, kita kecewa. Kita bisa memilih untuk merespons dengan bijak, bukan dengan kemarahan.

Memerdekakan Diri

Penetapan cuti bersama pada 18 Agustus dilakukan dalam rangka Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, sering kali kita masih terbelenggu oleh kemelekatan terhadap rencana dan kebencian terhadap perubahan. Merdeka sejati berarti bebas dari kemelekatan yang membuat batin tidak tenang.

 

Kemelekatan (lobha) yang muncul dari ketidaktahuan (moha) dapat memunculkan kemarahan (dosa) saat kenyataan berbeda dari harapan. Terkadang, bila seseorang menggenggam kemelekatan dengan erat–misalnya, pergi berlibur–padahal saat itu belum ada keputusan hari libur, maka kita akan kecewa dan marah jika terjadi perubahan.

 

Bagaimana solusinya? Kita perlu memerdekakan diri. Merdeka dari keinginan yang melekat sangat erat. Kita perlu melihat bahwa segala yang terkondisi akan berubah.

Berlatih Meditasi

Salah satu cara memerdekakan diri adalah berlatih meditasi. Duduk bersila, berdiri, atau berjalan sambil memusatkan perhatian pada napas.

 

Dengan kesadaran penuh terhadap momen saat ini, kita belajar untuk menerima perubahan tanpa reaksi berlebihan. Meditasi membantu kita tidak larut dalam prasangka atau kemarahan, dan membiasakan pikiran untuk kembali pada fokus utama. Praktik ini melatih kesadaran diri in the present moment. Bahkan ketika seseorang berlatih dengan tekun, lama-kelamaan konsentrasi akan stabil dan tidak mudah terganggu.

 

Sekilas, proses ini begitu mudah, tetapi tidak demikian. Sering kali, pikiran kacau karena muncul ide ini-itu, tetapi sekali lagi, kita perlu mendisiplinkan diri untuk kembali fokus ke napas. Mengutip kata Bhante Uttamo–kurang lebih beliau mengatakan–dalam bermeditasi, kita harus berdisiplin, semangat, dan ulet.

Penutup

Dengan berlatih meditasi, kita tidak mudah melabeli orang atau peristiwa, dan lebih mudah menerima kenyataan.

 

Mari kita memerdekakan diri tidak hanya secara politik, tetapi juga secara batin–bebas dari lobha, dosa, dan moha–agar menjadi individu yang lebih bijaksana dan bahagia.

 

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.
Dirgahayu Republik Indonesia!

Merdeka Bukan Hanya dari Penjajahan Tapi Juga dari Kemelekatan Batin
Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *