MEYEBARKAN AGAMA ATAU JUALAN AGAMA?

MEYEBARKAN AGAMA ATAU JUALAN AGAMA?

Sangatlah wajar orang yang menganut agama tertentu merasa terpanggil untuk menyiarkan agamanya. Seringkali ia berusaha dengan berbagai cara agar orang lain ikut menganut agamanya itu, sehingga menyinggung perasaan umat beragama lain.

 

Pemerintah telah menetapkan pedoman penyiaran agama agar pengembangan dan penyiaran agama tidak menimbulkan retaknya kerukunan hidup antar umat beragama.

 

Para biksu mungkin mengunjungi penduduk dari rumah ke rumah. Kalau diminta, dengan senang hati mereka akan menjelaskan apa yang diajarkan oleh Buddha. Namun kunjungan mereka sama sekali tidaklah dimaksud menarik orang-orang lain menjadi murid Buddha.

 

BUDDHA
Tidak pernah mengajak:, “Jadilah engkau murid-Ku atau pengikut-Ku. Ketika Bhaddiya dari suku Licchavi minta diterima sebagai pengikut, Buddha bertanya, “Bhaddiya, apakah Aku mengajakmu: Mari Bhaddiya, jadilah murid-Ku dan Aku akan menjadi gurumu?” Jawab Bhaddiya, “Tidak, Bhante.” la tidak mengajak, tetapi banyak orang yang terpengaruh dan meninggalkan kepercayaannya yang lama, lalu meminta sendiri untuk menjadi murid-Nya. Orang yang tidak senang terhadap Buddha menuduh bahwa la menggunakan kekuatan sihir sehingga orang-orang mau menjadi murid-Nya.

 

Bhaddiya berpendapat, bai sekali kalau orang-orang bisa ditundukkan dengan cara itu, karena sebenarnya bermanfaat bagi mereka sendiri. Sebaliknya menurut Buddha, jika semua orang itu ditundukkan bukan oleh-Nya, melainkan oleh karena “menghindari kejahatan dan melakukan kebaikan”, itulah yang akan mendatangkan kebahagiaan bagi mereka.” Anguttara Nikaya IV, 20;193

 

BUDDHA MENGINGATKAN
bahwa mengajarkan agama kepada orang lain itu tidaklah mudah. Orang yang ingin menyiarkan agama Buddha harus memperhatikan lima hal, yaitu:
(1) membabarkannya secara bertahap dan terarah (anupubbikatham)
(2) menjelaskan berdasar sebab yang mendahului, yang dapat ditunjukkannya (pariyayam)
(3) apa yang diberikan semata-mata berdasarkan kebaikan (annuddayatampattica)
(4) apa yang diberikan bukan untuk mendatangkan keuntungan duniawi, misal harta, kedudukan, atau kehormatan (amis ‘antaro)
(5) apa yang diberikan tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain, tidak juga mengagungkan diri sendiri seraya merendahkan orang lain (anupahacca). Anguttara Nikaya V, 16;159

 

Tidaklah ada jaminan bahwa hanya dengan percaya atau mengakui menjadi pengikut Buddha itu akan mendatangkan kebahagiaan. Pada banyak kesempatan Buddha menegaskan, “Engkau sendiri harus berusaha, para Tathagata (Buddha) hanyalah penunjuk jalan.”

 

Sumber: diandharma.org | Penyiaran Agama dan Keyakinan | Krishnanda Wijaya-Mukti

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TRANSLATE