Di era digital saat ini, kita sering kali memberikan label negatif kepada mereka yang jarang memperbarui status atau mengunggah foto di media sosial. Banyak yang mengira bahwa pemilik akun yang “diam” ini adalah orang yang tidak percaya diri (insecure) atau memiliki kepribadian introvert yang akut.
Namun, kenyataannya mungkin jauh berbeda dari asumsi tersebut. Fenomena ini bukanlah tentang ketidakmampuan bersosialisasi, melainkan sebuah bentuk “flexing” level tertinggi, yaitu pamer akan ketenangan batin.
Secara psikologis, individu yang jarang membagikan kehidupan pribadinya tidak merasa perlu mendapatkan validasi berupa “likes” untuk merasa bahwa diri mereka berharga.
Dalam ajaran Dhamma, sikap ini mencerminkan pengendalian diri yang kuat:
Tuan Atas Batin Sendiri: Mereka tidak mudah terombang-ambing oleh “8 Angin Dunia”, yaitu pujian dan celaan.
Noble Silence (Semanat Hening): Menjaga privasi dipandang sebagai bentuk perlindungan diri dari energi negatif dan drama yang tidak perlu.
Salah satu perbedaan mencolok terlihat dalam cara menikmati hidup. Ketika banyak orang sibuk mencari sudut foto (angle) terbaik untuk makanan mereka, orang-orang ini justru sibuk menikmati rasa makanan tersebut secara nyata. Mereka lebih memprioritaskan pengalaman di atas dokumentasi (experience over documentation) dan memilih untuk hidup sepenuhnya di masa kini.
Ada sebuah nilai unik dalam misteri ini: semakin sedikit seseorang mengumbar kehidupannya, maka kehadirannya justru terasa semakin “mahal” dan membuat orang lain penasaran.
Tanpa perlu pembuktian melalui unggahan, eksistensi mereka tetap utuh dan kebahagiaan yang mereka rasakan tetap nyata. Mereka ibarat gunung karang yang tetap kokoh berdiri, tidak tergoyahkan oleh “badai notifikasi” di ponsel mereka.
Mari kita mencoba menemukan jenis kebahagiaan yang tidak perlu selalu diunggah ke dunia maya. Jadilah pribadi yang tenang dan jadilah tuan atas pikiran Anda sendiri.
Jika Anda ingin berdiskusi lebih dalam mengenai ketenangan batin dan pengembangan diri, Anda dapat bergabung dengan komunitas Young Buddhist Association (YBA) untuk diskusi yang lebih nyata dan bermakna.
Leave a Reply