Kita kagum, terharu, save, share, bela. Tapi besok pagi hidup kita masih sama saja?
Loyalitas pindah dari Dhamma ke sosok.
“Bela guruku mati-matian” tapi ajarannya tak dijalani
Vakkali terobsesi memandang tubuh Buddha.
Buddha menegur: “Apa gunanya melihat tubuh ini? Ia yang melihat Dhamma, melihatku.” (SN 22.87)
Menjelang wafat, Buddha berpesan:
“Jadilah pelita bagi dirimu sendiri. Berlindung pada Dhamma.” (DN 16, attadīpa)
Kultus pribadi memadamkan lampu kita sendiri. Kita jadi penonton iman, bukan pelaku jalan.
Guru sejati menunjuk ke Dhamma, bukan ke dirinya. Seperti jari menunjuk bulan lihat bulannya, bukan jarinya.
Dan jangan-jangan… kita juga?
Jadi fans tokoh, bukan murid ajaran?
Hormati gurumu, ya.
Kultuskan, tidak.
Cinta sejati pada guru adalah menjalankan yang ia ajarkan.
Leave a Reply