Sebuah kedai di Gunma, Jepang, Nitta no Sho, mencetak seluruh teks Sutra Hati pada mi pipih lebarnya. Tintanya dari arang bambu aman dimakar dan tak luntur meski direbus. Satu porsi disusun berurutan: Makan sesuai urutan, seolah melafalkan satu kali sutranya. Mi ini sungguh ada, bahkan diliput media dunia.
Namanya: 法燈(Hoto) – “Pelita Dharma.” Diambil dari wejangan terakhir Sang Buddha: “Jadilah pelita bagi dirimu sendiri. Jadikan Dhamma sebagai pelitamu.” (attadīpā, dhammadīpā – Mahāparinibbāna Sutta) Sebuah mi diberi nama dari kata-kata perpisahan Sang Guru Agung.
Tentu, perdebatan pun muncul. Sebagian berkata: “Mencetak teks suci lalu memakanny, itu tidak menghormati.” Sebagian lain: “Ini cuma strategi dagang, mengatasnamakan spiritualitas.” Keduanya… punya titik yang masuk akal. Tapi mungkin, Sutra Hati sendiri punya jawabannya.
Apa inti Sutra Hati? 色即是空 (sè jí shì kōng) “Rupa adalah kekosongan, kekosongan adalah rupa.” Segala bentuk tidak memiliki inti yang berdiri sendiri. Maka sutra ini justru dengan lembut melonggarkan kemelekatan kita pada wujud fisik teks itu sebagai benda yang “tak boleh tersentuh.” Ironis dan indah.
Tapi hati-hati, kekosongan bukan nihilisme. “Rupa itu kosong” tidak berarti “jadi tidak ada yang penting, bebas semaunya.” Secara sehari-hari, niat & rasa hormat tetap nyata, tetap penting. Inilah Jalan Tengah, bentuk bukan segalanya tapi bentuk juga bukan tak ada artinya. Bukan “ini penistaan!” Bukan pula “bentuk tak penting!”
Dalam Buddhisme, “makan pun adalah latihan.” Tradisi Zen punya Lima Perenungan sebelum bersantap. Masakan vihara (shojin ryōri) adalah meditasi di atas piring. Mi bertuliskan sutra hanyalah pengingat, sebuah “cara terampil. “ Yang menyucikan bukan mi-nya tapi hati yang menyantapnya.
Ada yang berkata: “Arak & daging lewat di perut, Buddha tetap di dalam hati.” Tapi tahukah kamu peribahasa itu ada lanjutannya: “Bila orang awam menirunya, itu seperti masuk jalan sesat.” Artinya: Kebebasan batin bukan alasan untuk meremehkan. Justru di situlah kerendahan hati diuji.
Kita tak butuh mi bertuliskan sutra untuk berlatih. Setiap suap bila disantap dengan kesadaran & syukur, sudah menjadi latihan. Meditasi tak harus duduk bersila. Saat makan, makanlah sepenuh hati. Hadir di saat ini, itu pun sebuah meditasi.
Jadi bolehkah “memakan” Dharma? Dharma memang tak pernah diciptakan untuk terkurung di rak, atau membeku di atas gulungan.
Ia diciptakan untuk masuk ke dalam hidup dan napas kita. Tapi ia masuk lewat hati bukan lewat perut. Santaplah makananmu berikutnya seolah ia Sutra Hati.
Leave a Reply