Kita hidup di tengah bisingnya dunia yang terus-menerus mengagungkan pengakuan perasaan secara verbal. Media sosial, film, dan tren komunikasi modern seolah menetapkan standar bahwa kasih sayang hanya sah jika diucapkan dengan kalimat puitis atau pelukan yang hangat. Namun, ketika kita menoleh ke belakang, ke arah sosok orang tua yang membesarkan kita, sering kali kita menemukan keheningan yang panjang. Tidak ada ucapan “aku sayang kamu” atau ungkapan kebanggaan yang menggebu-gebu. Keheningan ini terkadang menumbuhkan tanya di sudut hati yang paling kecil, memicu keraguan apakah mereka benar-benar peduli atau apakah kita cukup berharga di mata mereka.
Kenyataannya, di banyak keluarga Asia, cinta bukanlah sesuatu yang diudarakan lewat kata-kata, melainkan sesuatu yang diwujudkan melalui tindakan nyata yang konsisten. Kasih sayang itu hadir dalam kepulan asap sarapan hangat yang disiapkan ibu sejak subuh, atau dalam ketegaran ayah yang bekerja keras dalam diam demi memastikan biaya pendidikan kita terbayar tepat waktu. Cinta juga terpancar dari langkah kaki kakek yang tetap mengantar ke sekolah meski raga tak lagi muda, atau dari desakan nenek agar kita segera makan sebelum sempat duduk beristirahat. Ini bukanlah sebuah kekosongan perasaan, melainkan sebuah dialek kasih sayang yang berbeda—sebuah bahasa tindakan di mana nasi yang selalu tersedia dan pintu rumah yang selalu terbuka menjadi bukti dari kekhawatiran yang tak pernah usai.
Sebelum kita terburu-buru menghakimi ketidakekspresifan orang tua, ada baiknya kita merenungkan dunia tempat mereka tumbuh dan dibentuk. Generasi mereka sering kali dibesarkan dalam lingkungan yang keras, di mana air mata dianggap sebagai kelemahan dan kerja keras adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Banyak dari mereka melewati masa-masa ketidakpastian ekonomi atau konflik yang membuat pemenuhan kebutuhan dasar jauh lebih mendesak daripada validasi emosional. Mereka tidak memilih untuk menjadi kaku; mereka hanya tidak pernah diajari bagaimana cara mengekspresikan perasaan dengan lembut karena mereka pun tidak pernah menerimanya.
Dalam perspektif kebijaksanaan kuno, tepatnya pada Sigālovāda Sutta, Sang Buddha memberikan panduan yang sangat membumi mengenai hubungan keluarga yang tidak menitikberatkan pada retorika verbal. Beliau menekankan bahwa peran orang tua adalah melindungi anak dari bahaya, memberikan pendidikan yang layak, hingga mewariskan bekal kehidupan pada waktunya. Seluruh panduan tersebut berfokus pada tanggung jawab dan tindakan nyata yang berkelanjutan. Dengan memahami hal ini, kita mulai menyadari bahwa mungkin selama ini orang tua kita telah menjalankan ajaran luhur tersebut dengan sangat setia, meski tanpa diiringi kata-kata manis yang kita dambakan.
Perjalanan batin kita menuju kedamaian dimulai saat kita mengenal konsep Kataññutā, yaitu rasa syukur mendalam yang melampaui sekadar ucapan terima kasih formal. Kataññutā mengajak kita untuk membuka mata terhadap setiap kebaikan kecil yang telah dilakukan orang lain, bahkan ketika cara mereka melakukannya jauh dari kata sempurna. Ini bukan berarti kita menutup mata terhadap kekurangan atau luka yang mungkin ada, melainkan sebuah upaya untuk melihat gambaran yang lebih besar tentang pengorbanan mereka yang tak terhitung jumlahnya. Sebagaimana diajarkan dalam Mātāpitu Sutta, jasa orang tua sangatlah besar hingga pengabdian fisik selama ratusan tahun pun dianggap belum cukup untuk membalasnya, sebuah perspektif yang mengajak kita untuk merenung tanpa harus merasa terbebani oleh rasa bersalah.
Pada akhirnya, Dharma bukan meminta kita untuk memilih antara rasa syukur atau kesedihan, melainkan mengajak kita untuk melihat keduanya dengan jernih. Adalah sesuatu yang valid jika kita merasa berterima kasih atas pengorbanan mereka, sekaligus merasa sedih karena kebutuhan emosional kita tidak sepenuhnya terpenuhi. Kita bisa memilih untuk menjadi generasi yang memulai bahasa baru—generasi yang berani memeluk meski mereka kaku, atau mengirimkan pesan perhatian yang tulus meski tak selalu mendapat balasan yang sama. Dengan mengembangkan Metta atau cinta kasih terhadap orang tua, kita juga belajar menetapkan batas yang sehat demi menjaga diri sendiri. Melalui perjalanan batin ini, kita berharap agar semua makhluk berbahagia, termasuk orang tua yang mungkin tidak tahu cara berucap “sayang” dan kita sendiri yang sedang belajar untuk mendengarnya melalui cara-cara yang berbeda.
Leave a Reply