Lebih setengah abad hidup saya untuk Borobudur Seorang pria paruh baya dengan sigap menyambut kedatangan saya di Jawa Tengah, Sabtu (10/05). “Silahkan masuk. Mau minum apa?” kata Werdi yang akan menginjak usia 72 tahun. Suaranya terdengar bersemangat saat membicarakan “belahan jiwanya”: Candi Borobudur.
“Lebih setengah abad hidup saya untuk Borobudur. Saya merasa dilahirkan untuk merawat Borobudur, kata pria lulusan SMP ini. Kecintaan Werdi terhadap Borobudur terjalin dengan mesra sejak 1972, ketika usianya akan menginjak 20 tahun. Saat itu, pemerintah tengah mencari ratusan pekerja untuk memugar Borobudur. “Awalnya mau bekerja saja pokoknya, tidak paham soal batu, pemugaran, dan lainnya. Lama kelamaan, saya menyayangi Borobudur,” ujar Werdi.
Dia mengatakan, kondisi Borobudur saat itu sangat menyedihkan. Werdi menceritakan tantangan besar saat memugar Borobudur, mulai dari batu-batu dinding utara yang nyaris roboh hingga kesulitan mengangkat batu besar meski dibantu 12 orang. Saat musim hujan, kondisi lokasi kerja sangat becek seperti sawah.
Proses paling menegangkan adalah menyusun ulang batu-batu dengan teknik anastilosis dan sambungan antar batu tanpa perekat; setiap posisi batu harus sangat presisi. Werdi bahkan kerap sulit tidur memikirkan celah sekecil satu sentimeter. Setelah 10 tahun, Borobudur kembali tegak berdiri, dan Werdi merasa bangga menjadi bagian dari tim itu.
Tidak seperti rekan-rekannya yang berpindah tugas, Werdi tetap merawat Borobudur hingga pensiun, dan pengalaman itu mengubah hidupnya: dari pemugar menjadi kepala keluarga. Kini ia hidup tenang sebagai petani, kadang masih diminta membantu pemeliharaan candi.
Leave a Reply