Kematian mendadak sering meninggalkan duka dan pertanyaan. Saat papa wafat karena kecelakaan di jalan tol, muncul kekhawatiran: apakah ia akan menjadi hantu gentayangan? Tubuh dapat diibaratkan radio, batin adalah siaran. Ketika radio hancur, siaran tidak hilang, melainkan berlanjut ke “perangkat” baru sesuai kebiasaan dan batin terakhirnya.
Ajaran Buddha menjelaskan dua cara: dalam Theravada, kelahiran baru terjadi seketika setelah napas terakhir. Dalam Mahāyāna dan Tibet, ada masa peralihan hingga 49 hari. Meski berbeda, keduanya sepakat bahwa batin tetap berlanjut, diarahkan oleh sebab-akibat perbuatan dan kondisi hati terakhir.
Sesudah meninggal, rasa sakit fisik berhenti total. Yang tersisa hanyalah pengalaman batin di alam berikutnya. Bila papa lahir di alam baik, ia akan menemukan ketenangan. Bila jatuh di alam sulit, penderitaan yang muncul sesuai dengan alam itu. Jadi bukan tubuh lama yang membawa duka, melainkan arah batin yang ia bawa.
Tentang hantu gentayangan, ajaran Buddha tidak mengenal roh yang tersesat tanpa tujuan. Ada kemungkinan lahir di alam hantu, tetapi itu hanya salah satu bentuk kelahiran. Jadi papa tidak otomatis menjadi hantu gentayangan; arah kelahirannya ditentukan oleh kebajikan dan batin terakhirnya, bukan oleh cara kematiannya.
Bagi keluarga, yang utama adalah menjaga ketenangan hati, berdoa, dan berbuat kebajikan untuk papa. Kebajikan tidak pernah sia-sia: bila ia sudah berada di alam baik, doa itu menambah terang; bila masih di masa peralihan, doa itu menjadi penopang. Kehilangan ini menjadi pengingat untuk senantiasa menyiapkan batin dengan kebiasaan baik, agar kelak perjalanan kita juga condong ke jalan yang terang.
Leave a Reply