Tradisi Sakya Vajrayāna dalam ajaran Buddha Tibet berbeda dari kebanyakan tradisi monastik selibat. Pemimpinnya, Sakya Trizin, berasal dari keluarga bangsawan Khön dan selalu menikah. Jabatan ini diwariskan dari ayah ke anak, sehingga selibat tidak diterapkan demi menjaga keturunan dan kesinambungan ajaran.
Garis Keturunan Householder Yogi Sejak awal, keluarga Khön adalah praktisi Vajrayāna non-monastik (householder yogi) yang diakui setara pencapaiannya dengan bhikkhu selibat, asalkan memegang sumpah dan menjalankan latihan batin.
Menikah dilihat sebagai jalan sah menuju pencerahan, sekaligus bukti bahwa Dharma dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pandangan Vajrayāna tentang Kehidupan Berkeluarga Dalam pandangan Vajrayāna, kehidupan berkeluarga bukan halangan untuk mencapai kebijaksanaan, selama dilandasi pandangan benar dan disiplin spiritual. Bahkan, pengalaman hidup berumah tangga bisa menjadi sarana latihan welas asih, kesabaran, dan kebijaksanaan yang nyata.
Contoh Pemimpin Sakya Sakya Trizin ke-41, Ngawang Kunga, dan putranya, Gyana Vajra Rinpoche (Sakya Trizin ke-43), memimpin ajaran tingkat tinggi tanpa hidup sebagai bhikkhu. Keduanya menunjukkan bahwa otoritas spiritual tidak hanya lahir dari kehidupan monastik, tetapi juga dari kesetiaan pada latihan batin dan pelayanan kepada makhluk hidup.
Tradisi Sakya membuktikan bahwa spiritualitas dapat diwariskan dan dibumikan, selaras dengan ajaran Buddha, baik di vihara maupun dalam kehidupan keluarga.
Leave a Reply