Amerika Serikat resmi mengembalikan dua arca perunggu abad ke-8 ke Indonesia.
Keduanya menggambarkan Avalokiteśvara, Bodhisattva Welas Asih dalam posisi berdiri.
Masing-masing hanya sekitar 41 & 51 sentimeter.
Kecil, Tapi tak ternilai.
U.S. Dept. of Justice
Renungkan angka itu sejenak.
Ini adalah era yang sama dengan dibangunnya Borobudur. Masa keemasan seni Buddhis Nusantara.
Arca-arca ini lahir dari tangan para empu, 1.200 tahun yang lalu, di tanah Jawa. Mereka bukan sekadar “benda antik”. Mereka adalah warisan jiwa bangsa ini.
Ia adalah Bodhisattva yang namanya sering dimaknai:
“ia yang mendengar jeritan dunia.”
Perwujudan karūna, welas asih tanpa batas. Sosok yang, konon, bersumpah tak akan beristirahat selama masih ada satu makhluk yang menderita.
(Di Tiongkok, ia dikenal sebagai Guanyin. 觀音)
Puluhan tahun lalu, menurut otoritas AS, arca-arca ini dijarah dari situs purbakala di Indonesia. Dicabut dari tanahnya oleh sebuah jaringan pencuri. Diam-diam. Diselundupkan. Jauh dari rumah.
Douglas Latchford yang disebut otoritas salah satu penyelundup terbesar. Ia menjualnya ke seorang kolektor di AS (antara 2003-2007), sambil menyembunyikan bahwa itu barang curian.
Latchford didakwa pada 2019. Ia wafat pada 2020, sebelum sempat diadili, dakwaannya pun gugur.
Patung yang dibuat untuk mewujudkan welas asih… berubah menjadi objek keserakahan.
Wujud karūna, diperlakukan oleh lobha, keserakahan, salah satu dari tiga racun batin yang diajarkan Buddha. Inilah yang terjadi saat yang sakral direduksi menjadi sekadar komoditas.
Sekitar tahun 2021, sang kolektor setelah tahu kebenarannya secara sukarela menyerahkan 34 artefak yang ia beli dari Latchford.
Termasuk dua Avalokiteśvara ini.
Sebuah keputusan untuk memulangkan apa yang bukan haknya. Dan itu, patut kita hormati.
Dalam sebuah upacara di Konsulat Indonesia di New York, Sang Welas Asih akhirnya pulang.
Terima kasih kepada otoritas AS, kepada para penyidik HSI, kepada para diplomat Indonesia, dan kepada sang kolektor yang memulangkannya.
Sebuah perjalanan panjang, akhirnya tiba di rumah.
Ia adalah jiwa yang hidup.
Dua arca telah pulang. Tapi ribuan lainnya masih di perantauan tersebar di museum & koleksi di seluruh dunia. Perjuangan memulangkan warisan Nusantara belum selesai. Tapi hari ini, kita merayakan satu kepulangan.
Selamat datang kembali, Sang Welas Asih.
Leave a Reply