Di tengah kabut pagi yang menyelimuti Lembah Kedu, Candi Borobudur berdiri tegak sebagai saksi bisu perjalanan batin manusia selama lebih dari seribu dua ratus tahun. Keheningannya bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan sebuah simfoni bisu yang mengajak kita merenungkan makna perlindungan dan kemuliaan yang sesungguhnya. Belakangan ini, perbincangan mengenai pemasangan chattra atau mahkota di puncak stupa utama kembali menghangat, memicu sebuah refleksi mendalam tentang apakah sebuah keagungan perlu ditegaskan dengan simbol fisik atau justru lebih bermakna dalam kesederhanaannya yang murni.
Dalam tradisi kuno, chattra berasal dari akar kata Sanskerta chad yang berarti melindungi. Ia bukan sekadar hiasan, melainkan sebuah payung seremonial bertingkat yang melambangkan perlindungan batin, kemuliaan, serta welas asih dan kebijaksanaan yang sempurna. Bagi sebagian orang, stupa tanpa chattra diibaratkan seperti raja tanpa mahkota, sebuah bentuk persembahan mulia kepada Buddha yang belum lengkap. Aspirasi untuk memasang kembali mahkota dari perunggu berlapis emas setinggi enam meter ini muncul dari kerinduan untuk melihat Borobudur kembali pada bentuk yang dianggap utuh sesuai dengan narasi relief-reliefnya.
Namun, sejarah mengajarkan kita untuk bersikap hati-hati dalam menyentuh warisan masa lalu. Pada awal abad ke-20, Theodoor van Erp pernah merekonstruksi mahkota ini dari serpihan batu, namun kemudian ia membongkarnya kembali karena meragukan keaslian bentuknya, di mana hanya empat puluh dua persen batu yang terverifikasi asli. Keraguan sejarah ini membawa kita pada sebuah pertanyaan filosofis yang lebih dalam bagi kehidupan modern: apakah kita seringkali terlalu sibuk mengejar “bentuk luar” yang kita anggap sempurna, hingga melupakan bahwa esensi sejati seringkali terletak pada apa yang tidak nampak oleh mata?
Suara-suara dari para bijak dan ahli sejarah mengajak kita melihat Borobudur sebagai sebuah Stupa Prasada, sebuah karya hibrid unik yang puncaknya mungkin memang sengaja dibiarkan kosong. Dalam naskah kuno Sanghyang Kamahayanikan, puncak spiritual digambarkan sebagai Sunyata atau kekosongan. Semakin tinggi seseorang mendaki perjalanan batin, maka segalanya akan menjadi semakin abstrak dan melampaui segala bentuk fisik. Kekosongan di puncak Borobudur bukanlah sebuah kekurangan, melainkan simbol Dharmadhatu, sebuah representasi tertinggi dari pencerahan yang tidak lagi membutuhkan atribut keduniawian.
Menambah benda fisik di puncak yang suci tersebut dikhawatirkan justru akan menurunkan derajat filosofis yang telah dititipkan oleh para leluhur Dinasti Syailendra. Jika kita menilik kembali pada ribuan stupa yang ada di seluruh kompleks candi, terdapat seribu empat ratus tujuh puluh dua stupa polos dan tidak satupun dari total seribu lima ratus empat puluh lima stupa di sana yang memiliki chattra. Hal ini menjadi pengingat bagi kita di masa kini bahwa dalam kehidupan yang penuh dengan kebisingan dan ambisi material, ada keberanian luar biasa dalam mempertahankan “kekosongan” dan membiarkan sesuatu dicintai apa adanya, tanpa beban tambahan atau aksesori yang berlebihan.
Perdebatan mengenai mahkota emas seberat delapan ratus kilogram ini juga membawa pesan sosial yang sangat relevan dengan tantangan zaman. Muncul sebuah refleksi yang menyentuh hati tentang apa artinya sebuah mahkota emas di puncak candi jika masyarakat di sekitarnya masih hidup dalam kekurangan. Nilai-nilai Kebuddhaan sejati mengajarkan bahwa spiritualitas itu bersemayam di dalam batin, bukan pada kemegahan benda fisik. Ketika bukti arkeologis tidak mendukung secara mutlak, memilih untuk tidak memaksakan kehendak bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah bentuk kedewasaan spiritual yang tinggi.
Pada akhirnya, webinar yang dilaksanakan pada Februari 2026 ini mungkin tidak menghasilkan konsensus bulat, namun ia telah memetakan dengan jelas sebuah perjalanan batin bagi kita semua. Borobudur tetap berdiri tegak di Lembah Kedu tanpa mahkota fisik, namun dalam diamnya, ia telah melampaui kebutuhan akan mahkota apa pun. Ia mengajarkan kita bahwa pencerahan sejati adalah ketika kita mampu berdamai dengan sejarah, menghargai integritas warisan dunia, dan menemukan kemuliaan justru dalam kerendahan hati untuk tidak mendominasi alam maupun masa lalu.
Leave a Reply