Menjelang akhir hidup, seseorang bisa merasa:
sakit, lelah, takut, cemas, atau bingung. Kadang, keputusannya juga tidak lagi jernih.
Yang utama:
• keinginan pasien
• nilai hidup
• kebutuhan spiritual
Hormati yang ia butuhkan.
Seumur hidup, ia tenang dengan satu doa.
• Saat lemah, ia memaksakan keyakinan.
• Itu membuat batinnya berat.
• Di akhir hidup, bisa memicu konflik.
Hidup tenang, bukan dengan paksaan.
Yang diingatkan:
• kebajikan
• kemurahan hati
• sila
• kualitas baik
AN 11.12–13: mengingat kebajikan dan kemurahan hati dapat membuat pikiran lebih lurus, gembira, tenang, dan terkonsentrasi.
Yang dijaga bukan debatnya, tapi kejernihan batinnya.
Jangan bikin takut. Bantu tenangkan batinnya.
Coba bisikkan:
• Ingat kebajikanmu
• Kami semua baik-baik saja
• Tenangkan pikiran
• Lepaskan perlahan
Kalau ia terbiasa dengan Buddha, Dhamma, paritta, hadirkan itu.
Bukan hal baru yang membingungkan.
Bukan berarti pindah keyakinan itu dilarang.
Kalau dipilih dengan sadar, bebas, dan jelas, keputusannya tetap harus dihormati.
Yang tidak bijak:
memakai kondisi lemah untuk memaksakan pilihan yang tidak ia kehendaki.
Spiritual care yang baik mengikuti nilai dan kehendak pasien.
Saat Anāthapiṇḍika sakit keras, Ven. Sāriputta membimbing batinnya
untuk:
tidak melekat, tidak menggenggam, dan belajar melepaskan.
MN 143 mencatat, setelah wafat ia terlahir di alam Tusita.
Di akhir kehidupan,
bantulah batin untuk melepas.
Yang dibangun seumur hidup:
• Kebajikan
• Ketenangan
• Batin yang siap melepas
Di akhir hidup, bantulah batin untuk melepas.
Leave a Reply