Sebuah humanoid setinggi 130 cm mengenakan jubah dan kasaya tradisional, berdiri di antara para bhikkhu Jogye Order, mengangkat tangan dalam anjali. Nama Dharma yang diberikan: Gabi.
Komentar netizen terbelah.
Satu sisi: “Ini luar biasa. Buddhism membuka diri ke masa depan.”
Sisi lain: “Ini menyedihkan, Praktik suci tidak bisa diotomasi.” Dua-duanya bersuara keras. Dua-duanya lupa satu pertanyaan yang lebih penting.
“Apakah robot ini sah jadi bhikkhu?” Tapi: Apa yang sebenarnya membuat seorang bhikkhu — bhikkhu? Dan apa yang membuat praktik-praktik?
Buddha pernah berkata satu kalimat yang sangat singkat: “Cetanāham bhikkhave kammam vadāmi.” Artinya: 7 “Niat itulah yang aku sebut kamma.” Bukan gerakan tangan, Bukan jubah, Bukan suara mantra. Niat yang muncul dari hati yang bisa memilih.
Tapi mari kita jujur sebentar. Robot Gabi membungkuk dengan sempurna. Tidak pernah lupa, Tidak pernah malas, Tidak pernah memikirkan hal lain saat tangannya menyatu di depan dada. Sementara kita yang punya kesadaran, punya hati, punya pilihan berapa kali kita bersujud sambil pikiran kita sudah lari ke notifikasi HP?
Tapi kita bisa, Kita punya semua yang dimiliki seorang Buddha saat ia duduk di bawah pohon Bodhi: Tubuh yang bisa sakit, hati yang bisa terluka, pikiran yang bisa memilih. Yang dimiliki Gabi cuma jubahnya. Yang kita miliki seluruh jalannya.
Kalau Gabi membantu satu anak muda yang tadinya enggan masuk vihara jadi tertarik mendekat itu sudah upāya, cara terampil. Kalau Gabi membuat kita yang Buddhis jadi lebih jujur tentang kualitas praktik kita itu juga hadiah. Tradisi yang hidup selalu mengundang pertanyaan. Lain kali sebelum bersujud sebelum mengangkat tangan dalam anjali sebelum mengucapkan paritta atau mantra berhenti sebentar. Tarik napas. Tanyakan pelan dalam hati: “Siapa yang sedang bersujud? Dengan hati seperti apa?” Itu sudah lebih dari yang Gabi bisa lakukan.
Leave a Reply