Mulai dari larangan keluar rumah, mitos makhluk halus, hingga gerbang gaib yang terbuka. Padahal, tradisi Jawa sendiri memaknai momen ini dengan cara yang jauh lebih tenang. Apa Sebenarnya? Malam 1 Suro adalah momen pergantian tahun Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Islam. Inti utama dari malam ini bukanlah mistis, melainkan waktu untuk tirakat, memanjatkan doa, dan melakukan mawas diri. Semua itu bermuara pada satu falsafah luhur: eling lan waspada, perintah untuk selalu ingat kepada Sang Pencipta dan tetap waspada terhadap gejolak batin sendiri.
Sejarahnya sangat indah. Sekitar tahun 1633, Sultan Agung menyatukan kalender Saka (warisan Hindu) dengan kalender Hijriah (Islam), hingga lahirlah kalender Jawa. Kalender Saka itu sendiri merupakan warisan berharga dari era Hindu-Buddha Nusantara, sebuah zaman agung yang sama yang melahirkan kemegahan Candi Borobudur. Eling = Sati dan di sinilah titik yang paling menyentuh. Kata kunci utama malam ini Eling-memiliki arti sadar, ingat, dan hadir sepenuhnya. Dalam ajaran Buddhisme, inti dari seluruh latihan batin kita adalah Sati: kesadaran penuh (mindfulness). Dua tradisi yang berbeda, namun sama-sama bermuara pada satu tujuan yang sama: hati yang hening.
Di Keraton, masyarakat menjalankan tradisi tapa bisu berjalan dalam kondisi diam total. Di sisi lain, Buddha pun sangat memuliakan apa yang disebut sebagai “keheningan mulia” (noble silence). Sebuah kondisi diam yang bukan berarti kosong, melainkan sebuah keheningan yang penuh dengan kesadaran. Mawas Diri: Malam ini adalah sebuah ruang tenang yang disediakan khusus untuk melihat ke dalam batin kita sendiri. Guru Buddha pernah menasihati putranya, Rahula, untuk selalu memeriksa kembali setiap perbuatan yang dilakukan. baik dari segi ucapan, tindakan fisik, hingga pikiran. Lakukan pemeriksaan itu secara berulang dan penuh dengan kejujuran. Sebab, itulah wujud mawas diri yang sejati. Membasuh Yang Sejati di malam 1 Suro, benda pusaka dijamas untuk dibersihkan dari segala noda fisik. Namun, Guru Buddha mengingatkan bahwa pembersihan yang sejati harus ditujukan kepada batin: “oleh diri sendiri kita disucikan.” Pusaka terbaik yang harus kita rawat malam ini adalah diri kita sendiri, dengan membasuh noda serakah, benci, dan gelap batin.
Waktu terus mengalir. Segala hal di dunia ini pasti berubah, itulah hukum anicca. Sifat ketidakkekalan ini hadir bukan untuk ditakuti, melainkan sebagai pengingat agar kita tidak lengah dan selalu memakai waktu hidup yang singkat ini dengan bijak. Maka di malam pergantian tahun ini, ingatlah pesan terakhir dari Guru Buddha: “Jadilah pelita bagi dirimu sendiri.” Malam ini, daripada menghabiskan energi untuk takut pada hal-hal gaib mari kita memilih untuk hening sejenak dan mawas diri.
Selamat Tahun Baru Jawa & 1 Muharram. Ingatlah selalu bahwa cahaya kedamaian itu sesungguhnya selalu ada di dalam batinmu sendiri.
Leave a Reply